EssaiKhasanah IslamMotivasi Islam

Jalan Tengah (9) Pulang

0
Ilustrasi
    Prof Hamdan Juhannis

“Ada rencana pulang kampung bro, nanti lumayan panjang cuti bersama.” Begitu terdengar percakapan teman dosen di kampus saya, yang keduanya berasal dari luar provinsi. Percakapan yang terasa nikmat mendengarnya bagi yang memilki kampung seperti saya.

Ternyata spririt dari kalimat di atas ada pada kata “pulang kampung.” Pulang kampung mengandung makna kerinduan, rindu bertemu dengan keluarga besar di kampung, rindu bersua dengan teman-teman kecil dulu. Jadi pulang kampung juga mengandung sisi kesejarahan, ingin mengecek jejak- jejak yang tidak terhapus di benak selama tumbuh di kampung. Ingin mengulang kembali masa-masa indah bermain bersama teman-teman sekolah di kampung.

Berbeda maknanya dibanding “pergi dari kampung”. Kata “pergi” di sini bisa mengandung ragam makna. Maknanya bisa biasa-biasa, misalnya pergi karena ada cita-cita besar ingin diraih. Namun yang lebih mungkin, adalah potongan kalimat ini bisa mengandung tanda tanya, ketidaknormalan keadaan. Mengapa dia pergi dari kampung. Apa masalah yang terjadi pada dirinya sampai harus meninggalkan kampung? Dalam konteks kampung ini, kita bisa mengatakan “pulang” lebih diinginkan dibanding “pergi”.

“Pulang kerja” juga tak kalah nikmatnya, mengandung makna perenggangan otot-otot, terlebih kalau anak-anak sudah menunggu dan berteriak, “ayah sudah pulang”. Jadi frasa “pulang kerja” mengandung makna pembauran keluarga,  yang menginginkan pulang kerja bukan hanya si pekerja tetapi  anggota keluarga yang ditinggalkan saat bekerja.

Baik “pulang kampung” maupun “pulang kerja” terdengar begitu indah karena mengandung kecintaan akan kampung dan rumah. Kampung dan rumah bukan sekadar kembali ke barak penampungan, tetapi di sana menyajikan pertautan, keutuhan, atapun kebersamaan.

Pulang kampung dan pulang kerja adalah “mind” yang selalu tebawa bagi yang pergi, akhirnya menjadi “mindset”. Karenanya,  bagi yang pulang kampung atau pulang kerja selalu terkait dengan  persiapan diri. Bagi yang mau pulang kampung biasanya punya persiapan tabungan atau mempersiapkan pernak-pernik keberhasilannya. Termasuk yang pulang kerja, paling tidak membawa pulang ole-ole ringan atau makanan sebagai simbol pemenuhan kegembiran anak-anak dan keluarganya.

Lalau apa yang kita pahami dengan istilah “pulang ke Rahmatullah” yang kalau diterjemahlan sepenuhnya ke Bahasa Indonesia, berarti: pulang ke Rahmat Tuhan. Tentu kalau diselami, menjadi sebuah peristilahan yang sangat bermakna. Istilah ini dimulai dengan kata pulang juga, tetapi mengapa pada benak banyak orang, tidak dipahami sebagai sebuah keindahan? Mengapa tidak pernah dianggap sebagai kerinduan? Mengapa sering dipersepsi sebagai kengerian?

Apakah karena tidak ada persiapan? Apakah karena tidak cukup tabungan? Apakah karena bentukan “mindset” kita menganggapnya  bukan kampung atau rumah sebenarnya? Apakah karena yang selalu terbayang keterasingan diri? Ataukah yang lebih parah adalah bayangan tentang derita berkepanjangan? Silakan tambahkan rentetan pertanyaan lainnya, saya tak kuat melanjutkan, karena saya-pun ngeri.

Editor

Jalan Tengah (8) Takdir dan Perubahan

Previous article

Semarakkan Ramadhan, Civitas Akademika Universitas Teknologi Sulawesi Makassar Bagi Takjil ke Warga

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Essai