Editor 9 Februari 2026

Celebesupdate.com, MakassarMenegakkan kewajibannya sebagai anggota MPR RI, Dr Hj Meity Rahmatia kembali gelar sosialisasi empat pilar di salah satu daerah pemilihannya, Kota Makassar. Pada Senin pagi, politisi dari Partai Keadilan Sejahtera itu menghadirkan peserta atau perwakilan masyarakat dari sejumlah wilayah kecamatan di ibu kota Sulawesi Selatan tersebut dan menyampaikan konsep empat pilar dalam perspektif Bulan Suci Ramadhan.

Meity mengaku sengaja mengaitkan materi sosialisasi dengan Ramadhan karena di 19 Februari 2026, masyarakat Indonesia rencana akan memulai berpuasa. “Insya Allah pekan depan, kita sudah akan memasuki Bulan Suci Ramadhan sehingga kita coba kaitkan sosialisasi ini agar pesannya bisa sampai ke masyarakat,” jelasnya kepada Celebesupdate.com saat akan memulai presentasenya pada acara yang digelar di Hotel Swissbell Kota Makassar tersebut.

Menurut Meity, sebagai ideologi yang mencerminkan nilai agama masyarakat di Indonesia, Pancasila sebagai pilar pertama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memberikan jaminan dan kebebasan bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa.  “Bulan Ramadhan adalah bulan peningkatan kualitas takwa dan akhlak. Nilai-nilai ini sejalan dengan sila-sila dalam Pancasila,”jelasnya.

Indonesia jelas merupakan negara ber-Ketuhanan. Artinya, sebagai negara demokrasi, segala aspek kehidupan di Indonesia kata Meity, sangat berbeda dengan konsep demokrasi di barat yang bebas dan terbuka. Kehidupan masyarakat, politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia mesti sejalan dengan norma dan moralitas agama yang dianut secara mayoritas penduduknya. Sebab itu,  ibadah puasa adalah wujud konkret pengamalan sila pertama.

“Berpuasa bisa membentuk perilaku warga yang tertib, loyal, teratur dan disiplin. Lalu pada level pejabat, puasa dapat membentuk pribadi amanah, jujur, berintegritas dalam menjalankan tugas dan tanggungnjawabnya. Dalam konteks bernegara, inilah yang diinginkan dari sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa,” bebernya.

Moralitas agama, lanjut Meity, terutama nilai puasa dalam Islam juga sangat seiring dengan Sila ke-2, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Semua agama, khususnya Islam memiliki ajaran yang diantaranya menekankan pada kepedulian sosial. Agama yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.  Di bulan Ramadhan, katanya, nilai-nilai dapat dilakukan dalam bentuk tindakan kecil seperti berbagi takjil atau bersedekah. “Ini adalah bentuk kemanusiaan,  yang adil dan beradab dalam tindakan sehari-hari,” tukasnya.

Demikian pula pada pilar lainnya seperti UUD 1945 sebagai dasar konstitusi. Negara, menurut Meity, sangat menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan beribadat menurut agamanya. “Lihat Pasal 29. Ya, insya Allah, suasana Ramadhan yang kondusif di Makassar adalah bukti nyata implementasi konstitusi. Dan merupakan kewajiban moral bagi umat beragama lain untuk menghormati saudara muslim yang berpuasa nantinya. Ini adalah bagian dari “ketertiban dunia” yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dalam skala mikro,” jelasnya

Kemudian dalam konteks NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, kata politisi dari Sulsel tersebut, bulan puasa nantinya adalah momentum mempererat ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah. “Kita bisa lihat suasana di Bulan Ramadhan, seperti di Kota Anging Mamiri ini, biasanya suasana jalan-jalan yang penuh dengan jajanan takjil menarik semua orang. Tidak hanya umat Islam yang sedang menjalakan ibadah puasa, tetapi penganut agama lain juga ikut menikmati suasana tersebut.  Berbelanja, dan juga berjualan takjil,” ungkapnya.

Susana ini, lanjut Meity merupakan potret kehidupan berbangsa yang sangat harmonis. Masyarakat dapat hidup rukun, bahkan menyatu secara sosial-ekonomi dengan tetangga yang berbeda keyakinan. “Makassar sebagai Miniatur Indonesia adalah kota dagang yang plural. Bagaimana warganya saling menghormati dan bertoleransi selama Ramadhan adalah contoh nyata bagaimana NKRI bisa kokoh,” jelasnya.

Apa yang diutarakannya tersebut turut diamini oleh Fatmawati Hilal. Akademisi itu menekankan bahwa empat pilar sebagai penopang kehidupan berbangsa dan bernegara sejalan dengan nilai-nilai yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Termasuk kehidupan beragama. Karena itu, dengan sendirinya empat pilar menjadi bagian tak terpisahkan dengan masyarakat dalam segala aspek.

“Sebagai negara yang masyarakat berlatar budaya, bahasa, daerah dan agama yang sangat plural, empat pilar adalah kekuatan yang dapat mempersatukan. Karena itulah sebabnya, pengetahuan ini harus terus direproduksi, disebarluaskan, dan ditanamkan kepada setiap generasi agar memahami betul arti sebagai masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*