Celebesupdate.com, Internasional-(Senin, 2 Maret 2026) Dua hari setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran, konflik berskala penuh di Timur Tengah memasuki fase baru yang lebih keras dan berdarah. Iran tak hanya kehilangan sejumlah petinggi negaranya, tetapi juga membalas dengan rentetan rudal balistik yang menghantam sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk, memicu korban jiwa pertama dari pihak Amerika.
Presiden AS Donald Trump, dalam pidatonya Minggu waktu setempat, menegaskan bahwa operasi tempur akan dilanjutkan “dengan kekuatan penuh” dan memperkirakan akan lebih banyak lagi korban berjatuhan di pihak AS dalam beberapa hari ke depan. Trump juga mengklaim pasukannya telah menenggelamkan sembilan kapal perang Iran dan menghancurkan markas besar angkatan laut Iran .
Pukulan Telak bagi Kepemimpinan Iran
Konflik ini dipicu oleh serangan udara gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2) yang menargetkan Tehran. Serangan tersebut berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang kemudian dikonfirmasi kematiannya oleh pemerintah Iran pada hari Minggu .
Tak hanya Khamenei, serangan udara tersebut juga menewaskan mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad di kediamannya di Tehran timur, serta puluhan komandan militer lainnya. Trump mengklaim kepada Fox News bahwa setidaknya 48 pejabat senior Iran tewas dalam serangan tersebut .
Menyusul kekosongan kekuasaan ini, Iran segera membentuk dewan kepemimpinan sementara yang terdiri dari tiga anggota dan mulai menjalankan tugasnya. Dewan ini untuk sementara dipimpin oleh Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran .
Rentetan Rudal Iran dan Korban Pertama AS
Hanya satu jam setelah serangan udara pertama, Iran melancarkan gelombang pembalasan yang jauh lebih cepat dan masif dibanding respons mereka di tahun lalu. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan enam serangan rudal dan drone yang menargetkan sedikitnya 27 pangkalan militer Israel dan AS di kawasan Timur Tengah .
Menurut analisis The New York Times yang dikutip Anadolu Agency, Iran berhasil menghantam setidaknya enam lokasi militer AS, termasuk Markas Besar Armada Kelima AS di Manama, Bahrain; Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait; serta fasilitas di Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) .
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya luka-luka parah dalam serangan di Camp Arifjan, Kuwait. Beberapa lainnya menderita luka ringan akibat serpihan .
“Beberapa orang lainnya mengalami luka ringan akibat serpihan dan gegar otak, dan sedang dalam proses untuk kembali bertugas,” demikian pernyataan CENTCOM di media sosial .
Iran juga mengklaim telah menghantam kapal induk AS USS Abraham Lincoln dengan empat rudal balistik di Teluk Oman. Klaim ini dibantah keras oleh CENTCOM yang menyatakan rudal tersebut “tidak mendekati sasaran” dan kapal induk tetap beroperasi seperti biasa .
Gelombang Perang Menerpa Sipil
Serangan balasan Iran tidak hanya menyasar instalasi militer. Sejumlah rudal dan drone Iran yang dicegat jatuh di kawasan padat penduduk, menimbulkan korban di pihak sipil dan memperluas dampak perang ke kota-kota besar yang selama ini relatif aman.
Di Uni Emirat Arab, Kementerian Pertahanan melaporkan tiga warga sipil tewas dan 58 lainnya luka-luka akibat jatuhnya puing-puing rudal di area pemukiman. Dua drone Iran juga menghantam gudang di Pangkalan Angkatan Laut Al Salam di Abu Dhabi. Di Dubai, puing-puing rudal memicu kebakaran di hotel-hotel mewah Fairmont The Palm dan Burj Al Arab .
Di Israel, sebuah rudal balistik Iran dilaporkan langsung menghantam tempat perlindungan sipil di Beitar Illit, Distrik Yerusalem. Insiden ini menewaskan sembilan orang dan melukai lebih dari 20 lainnya. Otoritas Israel menyatakan tempat perlindungan tersebut tidak mampu menahan hantaman langsung rudal balistik .
Sementara itu di Kuwait, satu orang tewas dan 32 lainnya luka-luka akibat serangan Iran. Negeri itu melaporkan menghadapi 97 rudal balistik dan 283 drone yang diluncurkan Tehran .
Jalan Buntu dan Seruan Internasional
Di tengah eskalasi ini, AS mengklaim operasinya berhasil melumpuhkan struktur komando IRGC. CENTCOM menyatakan, “IRGC tidak lagi memiliki markas” setelah serangan besar-besaran . Namun, Iran menolak menyerah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya memiliki hak untuk membela diri dan kemampuannya tidak terpengaruh oleh bombardir tersebut .
Diplomasi tampaknya menemui jalan buntu. Presiden Trump mengisyaratkan operasi militer dapat berlangsung selama empat minggu ke depan, sementara Iran menegaskan akan menentukan sendiri kapan perang ini akan berakhir .
Di panggung internasional, Uni Eropa menyerukan pengendalian diri maksimal dan perlindungan terhadap warga sipil. “Timur Tengah akan sangat menderita jika perang berkepanjangan,” demikian pernyataan resmi blok tersebut .
Perbedaan paling mencolok dari konfrontasi sebelumnya adalah kecepatan dan keganasan respons Iran. Berbeda dengan serangan terbatas di masa lalu yang terkesan “terencanakan”, kali ini Iran bertindak dalam hitungan jam, menandakan bahwa rezim di Tehran sedang dalam mode “survival” karena menghadapi ancaman eksistensial setelah kehilangan rantai komando puncaknya .
Dengan kedua belah pihak yang terus melancarkan serangan dan korban sipil yang terus berjatuhan, Timur Tengah kini berada di ambang perang terbuka yang sulit dikendalikan.





