Editor 10 Februari 2026

Celebesupdate.com, Makassar- Masih di tempat dan hari yang sama, tepatnya di ruangan Hall Hotel Swissbell, Jalan Panakukang, Kota Makassar, pada Senin sore, 9 Februari 2026, Dr Hj Meity Rahmatia menggelar sosialisasi empat pilar yang mengulas tentang  semangat kebangsaan dalam suasana Bulan Suci Ramadhan. Meski dengan tema yang sama, peserta yang hadir berbeda dengan kegiatan di Senin pagi. Di Senin sore,   anggota MPR RI tersebut menghadirkan ibu majelis taklim dan sejumlah tokoh masyarakat dari dua wilayah, Makassar dan Gowa.

Meity berharap, melalui majelis taklim dan perwakilan tokoh dari Makassar dan Gowa, ekspektrum sebaran sosialisasi empat pilar berlangsung pada audience yang lebih luas dan beragam. Narasumber yang hadir juga berbeda dengan sebelumnya. Meski masih dari kalangan akademisi, kali ini adalah dosen bidang Ilmu Agama dan penceramah yang sudah dikenal di kalangan masyarakat Makassar, Ustad Dr Abdul Wahid.

Seperti bisanya, Meity selalu tampil diawal memaparkan empat pilar sesuai dengan materi yang telah disiapkan dari MPR RI. Namun agar mudah dipahami, ia sengaja mengulas empat pilar  dalam konteks kehidupan di Bulan Suci Ramadhan yang tak lama lagi akan dilalui masyarakat muslim Indonesia. .

Menurut Meity, empat pilar merupakan pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang mencerminkan nilai agama masyarakat di Indonesia. Pancasila sebagai pilar pertama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memberikan jaminan dan kebebasan bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah. Termasuk berpuasa. “Sebagai negara ber-Ketuhanan, Indonesia  melalui konstitusi sangat menghargai Bulan Suci Ramadhan dengan memberikan jaminan kepada masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk Islam untuk melaksanakan ibadah di bulan ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, politisi dari Partai Keadilan Sejahtera itu menjelaskan bahwa, kehidupan beragama, khususnya kehidupan Bulan Ramadhan di Indonesia memiliki corak kehidupan yang unik. Di bulan ini, aktivitas ekonomi masyarakat melalui kegiatan kuliner tepi jalan, yaitu jual beli takjil dan makanan untuk berbuka puasa tumbuh di semua tempat. “Tidak hanya di perkotaan, tapi juga  hingga ke desa-desa,” imbuhnya.

Pasar takjil itu, kata Meity, merupakan budaya yang telah mengakar kuat di kalangan masyarakat Indonesia. Kuliner dan pasar takjil mencerminkan kehidupan empat pilar. Sebuah kehidupan berbangsa yang plural, religius, penuh rasa persatuan, kedamaian, dan toleransi.

“Meski berakar pada budaya kehidupan Bulan Suci Ramadhan, kuliner dan pasar takjil menjadi ruang yang aman dan menguntungkan  semua orang. Tidak hanya dari kalangan umat Islam, tetapi juga dari penganut agama lain. Di sana orang-orang bertemu tanpa melihat latar belakang,” jelasnya.

Menurut paparannya di depan peserta, Meity berharap Bulan Suci Ramadhan yang rencana jatuh pada 19 Februari 2026, dimanfaatkan sebaik-baiknya. “Puasa bisa membentuk perilaku warga yang tertib, loyal, teratur dan disiplin. Dan bagi pejabat, puasa dapat membentuk pribadi amanah, jujur, berintegritas dalam menjalankan tugas dan tanggungnjawabnya. Dalam konteks bernegara, inilah yang diinginkan dari sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa,” pungkasnya.

Sementara itu, melengkapi sosialisasi ini, Abdul Wahid menambahkan bahwa empat pilar sejatinya beriringan dengan ibadah menuju tingkat takwa yang akan dicapai umat Islam dalam Ramadhan. “Pancasila sebenarnya  mengikat setiap perilaku masyarakat Indonesia yang harus terikat pada moral agama,” ungkapnya.

Bulan Ramadhan adalah madrasah ruhiyah, kata Ustad Wahid. Yaitu sebuah ruang pendidikan jiwa yang tujuan utamanya adalah mencetak insan-insan bertakwa. Takwa, dalam esensinya yang paling dalam, bukan hanya tentang hubungan vertikal kepada Allah SWT (hablum minallah), tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap dan berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (hablum minannas). “Di titik inilah, benang merah antara ibadah Ramadhan dan Empat Pilar Kebangsaan saling terkait,” katanya.

Pancasila sebagai Landasan Akhlak Berbangsa. Sejalan dengan puasa yang membentuk pribadi yang jujur, adil, dan peduli. “Rasa lapar dan dahaga saat puasa melatih kita untuk peka terhadap penderitaan orang lain, mendorong tumbuhnya jiwa sosial yang merupakan perwujudan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pengendalian diri dari hawa nafsu selama Ramadhan adalah latihan intensif untuk mewujudkan keadilan sosial, di mana kita tidak serakah dan mampu berbagi dengan sesama. Puasa adalah sekolah karakter, dan Pancasila adalah bingkai karakter bangsa yang ideal. Demikian pula tiga pilar lainnya, ” tutup Wahid.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*