Editor 2 Oktober 2025
Penulis : Abdul Chalid, Pengamat Politik, Dosen Ilmu Politik UTS Makassar

Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, adalah generasi pertama yang tidak pernah mengenal dunia tanpa internet . Sejak lahir, mereka telah terpapar pada perangkat digital, media sosial, dan arus informasi yang tak terbatas. Hal ini menjadikan mereka “digital natives” sejati. Teknologi bukan lagi alat, melainkan bagian tak terpisahkan dari ekstensi diri mereka .

Dalam banyak literatur disebutkan bahwa karakteristik utama Gen Z antara lain:

  1. Tech-Savvy Intuitif: Mereka secara alami mahir mengoperasikan teknologi baru, memahami algoritma media sosial, hingga dasar-dasar keamanan siber .
  2. Pembelajar Visual dan Cepat: Mereka terbiasa dengan konten berdurasi pendek (short-content) seperti di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube, yang membentuk gaya belajar serba cepat dan visual.
  3. Kritis dan Adaptif: Di balik stereotip “suka rebahan”, Gen Z dikenal kritis, kreatif, dan sangat adaptif terhadap perubahan . Mereka juga vokal dalam isu-isu keadilan, keberagaman, dan lingkungan .

Perkembangan Gen Z di era digital ini dapat dilihat penggunaan media Sosial sebagai Jantung Interaksi dan Identitas mereka. Media sosial bukan sekadar platform, tetapi “panggung identitas” dan ruang utama untuk bersosialisasi . Data menunjukkan 81% Gen Z aktif di Instagram, 70% di TikTok, dan 69% di YouTube. Mereka menggunakan platform ini untuk mengekspresikan diri, mencari komunitas, hingga melakukan aktivisme digital untuk kampanye sosial atau politik .

Tren terbaru menunjukkan pergeseran dari oversharing ke komunikasi yang lebih privat. Fenomena “Zero Post” dan penggunaan finsta (akun kedua) atau fitur Close Friends menunjukkan keinginan untuk berinteraksi lebih bermakna dengan lingkaran terbatas, sembari menjaga privasi dari sorotan publik .

Dunia digital telah memberikan dampak besar bagi  cara Gen Z dalam belajar. Mereka terbiasa belajar secara otodidak melalui tutorial YouTube, kursus online, dan podcast. Namun, kebiasaan mengonsumsi konten singkat juga memicu budaya instan. Akibatnya, kemampuan analisis mendalam dan refleksi kritis berisiko tergerus, membuat mereka rentan terhadap disinformasi dan clickbait.

Dan keterhubungan digital yang konstan membawa tekanan psikologis yang signifikan. Dalam banyak riset ditemukan banyaknya terjadi tekanan Sosial dan FOMO. Validasi diri seringkali dikaitkan dengan jumlah like dan komentar. Hal ini memicu kecemasan, FOMO (Fear of Missing Out), dan perbandingan sosial yang tidak sehat.

Kemudian, kelelahan Digital (Digital Burnout). Paparan informasi dan interaksi tanpa henti menyebabkan kelelahan mental. Survei Deloitte (2023) mencatat lebih dari 53% Gen Z merasa cemas jika tidak memeriksa ponsel dalam satu jam .

Dampak lainnya adalah jeratan Doomscrolling. Kebiasaan menggulir konten negatif tanpa henti, yang diperkuat oleh algoritma, dapat memperburuk kecemasan dan menciptakan siklus dopamin yang tidak sehat

Pancasila sebagai Kompas Digital

Di era digital saat ini, nilai-nilai Pancasila tetap memiliki relevansi yang kuat, bahkan menjadi kebutuhan mendesak bagi Generasi Z. Relevansi ini tidak lagi pada tataran hafalan, melainkan sebagai panduan etis dan solusi atas problema kekinian.

Data Kementerian Kominfo tahun 2023 mencatat ada sekitar 2.300 konten hoaks tersebar setiap bulan, dan sebagian besar diakses oleh anak muda, khususnya Gen Z . Lebih dari 70 persen Gen Z aktif menggunakan media sosial, sehingga mereka sangat rentan terpapar hoaks, ujaran kebencian, hingga propaganda ideologi transnasional yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Contoh paling kongkrit, yaitu kasus  SMA 72 Jakarta pada November 2025 lalu. Peristiwa itu memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai dampak ekstrem dari paparan informasi terhadap perilaku,  terutama generasi muda dari kalangan pelajar. Paparan konten kekerasan di media sosial tidak hanya memicu tindakan agresi, tetapi juga membentuk pola pikir, identitas, dan bahkan metode aksi siswa dalam peristiwa tersebut.

Dari sejumlah riset disimpulkan bahwa, paparan informasi dari dunia platform digital berdampak pada perilaku siswa dalam tiga aspek utama yang terkonfirmasi dari barang bukti dan analisis digital forensik. Pertama, adanya radikalisasi berbasis estetika dan imitasi (Memetic Radicalisation). Pelaku tidak terafiliasi dengan kelompok teror mana pun, namun ia terpapar dan mengagumi estetika kekerasan global. Analisis dari Global Network on Extremism and Technology (GNET) menyebut fenomena ini sebagai “memetic radicalisation” atau radikalisasi berbasis tiruan . Pelaku meniru gaya, simbol, dan gestur dari pelaku penembakan massal di luar negeri, bukan karena memahami ideologinya, melainkan karena terpesona pada citra visualnya. Hal ini dibuktikan dengan tulisan di senjata mainannya yang menjadi barang bukti kunci.

Kedua, idolisasi tokoh kekerasan global. Polisi menemukan bahwa pelaku terinspirasi oleh setidaknya enam pelaku serangan massal dari luar negeri, mulai dari pelaku penembakan di Columbine (AS, 1999) hingga penembak di Christchurch (Selandia Baru, 2019) . Ia bahkan menuliskan nama Brenton Tarrant dan frasa “Welcome to Hell” di senapan mainannya . Ini menunjukkan bahwa pelaku menjadikan figur-figur kekerasan sebagai panutan dan pahlawan, sebuah perilaku yang dipelajarinya dari forum-forum online dan media sosial .

Ketiga, yaitu akuisisi pengetahuan teknis untuk bertindak. Paparan informasi tidak hanya mengubah pola pikir, tetapi juga membekali pelaku dengan kemampuan teknis. Ia mempelajari cara merakit bom dari konten online. Investigasi menunjukkan ia aktif mencari konten kekerasan, termasuk cara merakit bom, dan bergabung dengan komunitas online yang mengagungkan tindak kekerasan

Dalam konteks inilah Pancasila dapat berfungsi sebagai penyaring di Era Disrupsi Informasi ini. Gen Z adalah “digital native” yang hidup di tengah banjir informasi. Pancasila dapat dikuatkan kembali sebagal penyaring dampak negatif globalisasi seperti hoaks, perpecahan sosial, dan radikalisme yang banyak beredar di ruang digital .

Pancasila adalah basis etika dan moral. Di tengah krisis moral yang melanda berbagai lini, nilai-nilai Pancasila menawarkan tuntunan yang konkret. Nilai Pancasila merupakan intisari dari nilai-nilai agama. Pada sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pedoman dalam mendeteksi informasi yang baik dan buruk, bermanfaat atau tidak bermanfaat serta dibutuhkan atau tidaknya sebuah informasi.

Dalam konteks digital, fungsi ini dapat dipersonifikasikan sebagai filter budaya yang menilai informasi, konten, dan interaksi komunikasi berdasarkan nilai luhur Pancasila lainnya, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kemanusiaan), persatuan Indonesia (sila persatuan), kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan (sila deliberatif), serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila keadilan sosial).

Sebagai Perekat di Tengah Polarisasi. Ruang digital seringkali menjadi ajang polarisasi dan ujaran kebencian. Di sinilah nilai persatuan Pancasila menjadi sangat relevan. Generasi Z diajak untuk tidak mudah terprovokasi dan mampu berdiri membela pluralitas . Bahkan, DPR RI mendorong adanya ruang dialog kritis yang menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai Pancasila untuk membahas isu-isu kekinian, sehingga mereka memahami bahwa Pancasila bukan hanya idealisme, tetapi juga solusi atas dinamika politik dan sosial

Pancasila bagi Gen Z idealnya semakin menguat sebagai kompas moral dan perekat bangsa di tengah kerasnya arus digital. Gen Z membutuhkan Pancasila sebagai filter informasi, pondasi etika, dan antidotum terhadap polarisasi.

Namun, tantangannya terletak pada kemampuan kita dalam menyajikan Pancasila. Bukan pada “konten” Pancasila, melainkan pada “konteks” dan “metode” penyampaiannya. Pendekatan yang dogmatis dan tekstual harus ditinggalkan. Sebagai gantinya, diperlukan pendekatan yang dialogis, kreatif, dan adaptif dengan budaya digital (TikTok, Instagram, podcast, film pendek).

Aktualisasi Pancasila harus “berbicara dalam bahasa zaman mereka,” hadir bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam aksi nyata melawan hoaks dan intoleransi di media sosial.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila!

 

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*