Konflik bersenjata antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat-Israel yang memanas sejak awal 2026 bukan sekadar peta pertempuran geopolitik biasa. Puncaknya pada Sabtu-28 Februari 2026, pasukan AS dan Israel melancarkan Operasi Epic Fury (AS)/Lion’s Roar (Israel), dengan hampir 900 serangan lewat udara dan laut dalam 12 jam pertama yang menargetkan sistem pertahanan dan infrastruktur militer Iran. Gelombang serangan awal ini tidak hanya menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dan puluhan pejabat lainnya, namun juga menewaskan warga sipil. Serangan ini pun dibalas Iran dengan Operasi True Promise IV. 2600 jiwa lebih telah melayang dari kedua belah pihak.

Beberapa serangan bahkan ditujukan pada fasilitas nuklir Iran: situs Fordow, Natanz, dan Isfahan dengan menggunakan bom bunker AS. Begitupun sebaliknya, ancaman Iran untuk menyerang balik situs nuklir Dimona milik Israel dan ini telah dilakukan. Dari eskalasi perang ini muncul kekhawatiran besar, ada ancaman yang jauh lebih mengerikan bagi peradaban: bagaimana jika konflik ini meluas menjadi perang nuklir? Tulisan ini mencoba mengurai potensi bencana lingkungan dan kemanusiaan yang teramat besar apabila senjata nuklir benar-benar digunakan dalam konflik ini.
Ancaman “Musim Dingin Nuklir”





