Oleh: Hamdan Juhannis, Rektor UIN Alauddin
Saya masih lanjut membahas tentang dampak sosial dari lahirnya Qur’an digital. Faktornya karena begitu banyak inspirasi dari pembaca yang merespon coretan saya secara kritis.
Menjawab pertanyaan tentang yang mana sebenarnya dipersepsi sebagai kitab suci? Pertanyaan ini sudah lama muncul jauh sebelum munculnya era digital, terutama dari pengkaji ilmu ketuhanan (teologi). Namun mari kita membahasnya dalam persektif awam saja, istilahnya pemerhati atau simpatisan, tapi tentu tidak mengarah pada pendekatan “cocoklogi”.





