Sejalan dengan budaya berbagi tulisan, saat ini kita betul-betul hidup di masa sharing pengetahuan yang massif. Saya rutin download buku dari salah satu website yang sangat menarik, mulai dari ensiklopedia sejarah, budaya, agama, konflik, perang, sampai pada buku how to dalam versi bahasa Inggris. Memang kadang “merasa berdosa” saat buku banyak tapi tidak dibaca. Untuk itu, saya kalau buka laptop selalu memikirkan juga–selain mengerjakan tugas wajib, disertasi–adalah membaca apa yang telah saya download. Setelah itu, saya catat poin pentingnya, saya renungkan, kemudian saya sinergi dengan pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Berbagi Kristal Pengetahuan
Apa yang kita lihat, dengar, dan baca adalah pengetahuan. Tapi, pengetahuan itu hanya akan jadi batu biasa jika tidak diolah menjadi kristal-kristal yang indah. Pengolahan kristal pengetahuan itu membutuhkan waktu, renungan, dan “jam terbang.” Anak SD, tentu akan kesulitan jika diminta menulis analisis tentang, misalnya “kenapa emak-emak harus mengular dalam antrian minyak goreng.” Tapi, seorang sarjana–dengan “jam terbang”–dapat menganalisis itu menggunakan pisau analisis yang dia miliki, yang walau berbeda dengan ilmuwan lain, itu tetap akan memperkaya ranah tersebut.
Menjadikan pengetahuan biasa sebagai kristal pengetahuan membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan keberanian serta kemauan berbagi yang tinggi. Mengapa saat ini Google menjadi search engine paling diminati sejagad bumi? Adalah karena mereka berani berbagi. Kalau mereka mau menutupi pengetahuan–artinya hanya buat dia saja–maka itu tidak akan mendapatkan benefit buat mereka. Sebaliknya, ketika mereka berbagi pengetahuan, mereka mendapatkan benefit dalam produk lainnya; “rugi” di satu sisi tapi untung di sisi lainnya.





