Editor 11 Juli 2022

Lantas ia bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan ini padamu?” “Ya” Ibrahim menjawab dengan singkatnya. “Jika demikian maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami” tegas Hajar sambil kembali ke tempatnya.

Inilah bentuk keyakinan dan kesabaran dari sosok perempuan. Yang akhirnya menjadikan tindakannya sebagai tindakan bersejarah. Saat Ismail meraung kehausan, naluri seorang ibu membuat Hajar berdiri. Ia naik ke bukit Shafa untuk mencari air skealigus bantuan. Ia seperti melihat air di seberang. Ia lantas setengah berlari menuju Bukit Marwah. Tujuh kali bolak-balik ia melakukannya tapi tak kunjung ada air dan bantuan.

Lalu Allah SWT mengirimkan pertolongan, dari kaki mungil Ismail kemudian menghentak tanah dan memancarkan air. Inilah air zam-zam yang hingga kini tidak pernah kering dan telah menjadi air sajian bagi jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia.

Inilah peran luar biasa perempuan tangguh bernama Hajar. Amaliyah dari Shafa ke Marwa kini menjadi amalan Sai, yang menjadi salah satu rukun haji dan umrah. Dilakukan miliaran manusia untuk kembali mengingat perjuangan Siti Hajar.

Perjuangannya pula telah menjadi sebab munculnya air zam-zam yang manfaatnya telah dirasakan beberapa generasi setelah Hajar dan Ismail.

Perempuan secara faktual telah menjadi bagian penting dalam sejarah sekaligus ibadah dalam Islam. Inilah pesan yang tidak boleh terlupakan. Bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam kehidupan. Sekali lagi dalam momentum yang serentak hari ini, peran perempuan dan keluarga amat besar. Ini harus menjadi ruh dalam berbagai kebijakan, bahwa perempuan dan keluarga bukan hanya pelengkap tapi sebagai sebuah subjek dan pelaku.(*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*