Sistem proporsional terbuka yang mendorong persaingan berlangsung dari antara partai ke dalam internal partai politik itu sendiri. Kenyataan ini mendorong para elit dalam hal ini calon legislatif untuk menggunakan berbagai cara, taktik dan strategi dalam meraih peluang kemenangan. Berbeda ketika pemilihan berlangsung dalam bentuk proporsional tertutup, atau berdasarkan nomor urut, persaingan cenderung dapat dikanalisasi hanya berlangsung sesama partai politik saja. Pada konteks itu, pola-pola komunikasi politik dan strategi yang dibangun cenderung dititikberatkan pada program politik yang tepat sasaran agar dapat diterima oleh masyarakat pemilih. Namun berbeda
pada pemilihan 2014, strategi politik dan komunikasi politik yang dibangun harus melebihi dari sekadar kampanye dan sosialisasi program.
Selain itu oleh faktor perubahan sistem pemilihan di atas, pada tingkat pemilih, juga perilaku pragmatis lebih menonjol karena tingginya kepentingan elit terhadap pemenuhan suara. Akibatnya, kontrak politik antara Caleg sebagai calon perwakilan rakyat di daerah yang mestinya terjadi, tereduksi oleh transaksi take and gift. Artinya, proses pemilihan bergeser pada makna yang lebih ekonomi, masyarakat pemilih menjadi penjual suara, dan Caleg menjadi pembeli. Diantaranya seringkali hadir makelar yang mencari untung, maka dengan fenomena itu, sejumlah caleg pada Pileg kemudian lebih menguatkan komunikasi politik melalui penguatan tema identitas personal. Baik secara kultural maupun secara ideologi.
Umumnya, seorang politisi dalam konteks pemilihan yang demokratis, termasuk pada pemilihan anggota legislatif daerah, biasanya melakukan komunikasi politik berdasarkan dua pendekatan. Pertama, Caleg membangun komunikasi sebagai representase partai politiknya, dalam hal ini dapat memanfaatkan kekuatan partai secara struktural, dan, kedua sebagai representasi personal yang dapat dilihat dari ragam atau multi identitas politik. Misalnya identitas budaya atau etnik, dan melalui ideologi atau agama. Di dalamnya sudah termasuk pula kelompok kepentingan. Singkatnya, kekuatan infrastruktur politik benar-benar akan dimanfaatkan. Namun demikian, strategi ini tidak berpengaruh besar tanpa disertai isi tas yang banyak. Wallahu ‘alam bissawab!





