Editor 21 September 2026

Namun, tak dipungkiri pula, dengan jejaring komunikasi sosial yang kian luas ini, identitas masyarakat dalam sebuah negara dan bangsa juga mendapat banyak ancaman. Terutama dengan munculnya pengaruh lintas budaya yang bersifat patologi melalui platform daring.

Disebut patologi sosial media daring, kata politisi dari Sulawesi Selatan tersebut, karena berseberangan dengan nilai-nilai etika masyarakat Indonesia secara umum. Diantaranya adalah konsep tentang kebebasan yang tak terbatas di dunia barat. “Termasuk dalam oreintasi seksual. Masyarakat Indonesia hanya mengenal dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Indonesia pun menjunjung tinggi tatanan kehidupan berkeluarga yang diatur dalam agama,” ungkapnya dalam kegiatan sosialisasi yang berlangsung, Senin (21/09/2026).

Apalagi bila merujuk kepada ajaran agama Islam sebagai agama mayoritas dianut di negara Indonesia. Di dalam Pancasila sebagai dasar negara, kata Meity, Sila pertama secara jelas menegaskan Indonesia sebagai negeri berketuhanan yang Maha Esa. “Gerakan ini berlangsung terstruktur dan massif. Dan tentu sangat mengancam identitas nasional dan integritas negara,” jelasnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*