Editor 29 April 2025
Abdul Chalid, S.IP.,M.Si
Dosen Ilmu Politik UTS Makassar

Sejak dilantik pada 20 Januari 2025, hari ini  menandai hari ke seratus pemerintahan Donal Trump di Amerika Serikat. Presiden yang dikenal dengan ekspresi dan rambut eksentriknya itu tak berhenti memberi kejutan pada dunia. Saat baru saja ditampuk kekuasaan, Trump telah mengguncang masyarakat global dengan ambisinya menaikkan tarif impor bagi barang yang masuk ke Amerika dari berbagai negara. Kebijakan ini sontak mendapat kritik tajam dari dalam negeri, dan perlawanan dari sejumlah negara di Eropa, negara-negara Amerika Latin dan Cina.

Kebijakan perdagangan Trump ini cukup menyita perhatian dunia hingga akhirnya melibatkan negara Paman Sam ini terlibat perang tarif dengan Cina. Negara raksasa di Asia itu tidak menerima tarif yang dikenakan dan membalas . Kebijakan luar negeri Trump juga mengalami perubahan total dengan pengurangan intervensi pasukannya di sejumlah negara Timur Tengah yang tengah kacau. Termasuk penutupan program pendanaan global Amerika dalam ranah sosial dan kemanusiaan. Dalam berbagai kesempatan, presiden itu menyatakan akan memokuskan pemerintahannya pada pembangunan internal ekonomi Amerika. Slogannya yang terkenal ialah, “buat Amerika terjangkau lagi” dan “Jadikan Amerika Hebat Kembali”.

Pada 100 pemerintahan Trump. Apa saja kejutan yang telah ia lakukan? Soal tarif dagang dan proteksi terhadap ekonomi masyarakat Amerika, sejauh ini Trump tampak belum berhasil. Upayanya untuk menurunkan inflasi belum mencapai tujuannya. Seperti yang dilansir DW misalnya, sampai saat ini  bagi banyak warga Amerika, belanja kebutuhan sehari-hari tetap mahal. Belanja mingguan untuk dua orang masih bisa menghabiskan lebih dari $150 (sekitar Rp 2.400.000), bahkan di daerah yang tidak mahal.

Selain kebijakan tarif dagang, ambisi Trump untuk melindungi dan menaikkan kembali status Amerika sebagai negara adidaya serta berpengaruh yaitu dengan membatasi imigran. Trump meningkatkan keamanan perbatasan dan berjanji akan mendeportasi para imigran yang ia nilai mengganggu Amerika. Sejauh ini realisasi dari keputusannya itu belum disaksikan berlangsung efektif oleh warga Amerika.

Pasca berbagai kebijakan tersebut, menurut survei Pew Research Center, warga Amerika justru memandang ekonomi negaranya lebih pesimis dibandingkan Februari lalu, sebelum tarif dagang dan proteksi harga bagi warga Amerika diumumkan. Dalam penelitian tersebut ditemukan, sebanyak 40% responden memperkirakan ekonomi AS akan membaik setahun kemudian, sedangkan 37% berpikir akan memburuk. Pada April, hanya 36% yang masih optimis, dan 45% yakin ekonomi AS akan memburuk.

Di masa 100 hari pemerintahannya ini, Trump tampaknya belum dapat menjanjikan perubahan yang signifikan bagi ekonomi Amerika. Dalam beberapa kasus, seperti dalam perang tarif dagang dengan Cina, alih-alih meningkatkan ketergantungan negara itu, Trump justru tampak menunjukkan sikap melunak. Sikap itu sebagai potret bahwa ekonomi Amerika sejauh ini tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh perdagangan global. Termasuk dengan Cina.

Ketegangan ekonomi global yang disebabkan Amerika-Cina sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2o18.  Presiden AS Donald Trump memberlakukan bea masuk terhadap barang-barang Tiongkok senilai $34 miliar. Tiongkok kemudian membalas dengan tarif serupa terhadap produk-produk AS.  Tahun 2025, Trump kembali memimpin Amerika, kebijakan itupun kembali terjadi. Dimulai dengan pemberlakuan tarif dasar 10 persen oleh Trump pada hampir seluruh barang yang akan masuk ke Amerika. Bagi China berlaku tarif resiprokal 34 persen. Langsung ditolak tentunya. Cina juga memberlakukan tarif yang sama 34 persen bagi barang Amerika. Dan seterusnya. Kedua negara itu terus berbalas.

Persoalannya terbesarnya adalah, negara-negara berkembang justru yang mendapat dampak besar dari perang dagang ini. Termasuk ke Indonesia yang dikhawatirkan bisa rugi dalam kegiatan ekspor sejumlah komoditas yang selama ini dibutuhkan masyarakat Amerika. Dan kerugian ini bisa berefek domino ke dalam negeri seperti adanya ancaman pemutusan hubungan kerja, inflasi, dan lain sebagainya. Menyikapi tarif Trump, banyak pihak menyarankan pemerintahan Prabowo bernegoisasi ulang dan membangun kesepakatan dagang. Tapi mungkinkah Indonesia bisa membangun nilai tawar dengan presiden eksentrik itu?

Jalan lain yang dapat ditempuh Indonesia, adalah secara pelan-pelan melepaskan diri dari ketergantungan pada Amerika di sektor industri dan perdagangan. Saya kira, jalan pedang ini sangat searah dengan idealisme Presiden Prabowo yang selalu menyuarakan kemandirian bangsa Indonesia. Sejak maju sebagai calon presiden dan akhirnya terpilih kini, Prabowo konsisten menyinggung negara-negara adidaya yang memiliki kepentingan mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara pasar.  Katanya, statusnya dan peran Indonesia sebagai negara berkembang sangat diperlukan oleh negara maju untuk mengonsumsi produk-produk industri mereka.

Indonesia memiliki jalan untuk melepaskan diri dari cengkeraman negara adidaya. Di masa depan, negara ini akan memiliki nilai tawar dengan sumber daya yang dibutuhkan oleh masyarakat global. Terutama dari sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Pada aspek geopolitik global, kita juga memiliki peluang bergabung dengan negara-negara yang mendukung politik multipolar seperti Rusia, Cina, India, Afrika dan negara-negara latin.  Jadi, tunggu apa Pak Presiden? Sekali-kali kita kejutkan juga Donald Trump, hehehe…!

 

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*