Bagi penonton semesta Marvel, Wilson Fisk alias The Kingpin bukan villain biasa. Melalui serial Daredevil: Born Again yang sedang tayang di Disney+ untuk Season 2, Fisk memantapkan dirinya sebagai simbol kejahatan terstruktur.

Ia adalah pria berjas mahal yang mampu meremukkan hukum sekaligus tulang lawan. Sosoknya mencerminkan bagaimana kekuasaan absolut bisa mengubah hukum menjadi sekadar instrumen kepentingan pribadi.
Menariknya, bayangan Fisk seolah melompat keluar dari layar kaca, menemukan padanan yang presisi pada sosok Donald Trump, ya presiden Amerika Serikat.
Keduanya adalah arketipe penguasa yang lahir dari kota beton New York. Keduanya membangun kekuasaan melalui imperium properti sebelum akhirnya membajak sistem demokrasi demi ambisi personal.
Kemiripan paling mencolok terletak pada penggunaan slogan yang menjanjikan pemulihan instan. Fisk menggunakan jargon “Fisk Can Fix It”, sebuah janji sebagai satu-satunya “tukang perbaiki” kota yang rusak.
Di dunia nyata, Trump mengguncang panggung politik dengan “Make America Great Again”. Kedua narasi ini bekerja dengan logika serupa: menciptakan persepsi bahwa Amerika Serikat sedang hancur lebur.
Mereka meyakinkan publik bahwa hanya pemimpin bertangan besi yang mampu menyelamatkannya. Keduanya memposisikan diri sebagai “Penyelamat” dari ancaman yang mereka ciptakan sendiri.
Fisk mengklaim tindakan kejamnya dilakukan demi cinta pada New York, sambil meyakinkan warga bahwa pahlawan super adalah penyebab kekacauan. Trump pun serupa, memposisikan diri sebagai pelindung rakyat dari “elit global”, “Deep State”, dan “The New Axis of Evil”.
Mereka mahir menciptakan musuh bersama sebagai kambing hitam. Taktik ini efektif untuk mengalihkan perhatian publik dari agenda pribadi mereka yang sesungguhnya.
Gaya otoriter ini meluap hingga ke kebijakan luar negeri yang transaksional. Layaknya Fisk yang menekan sindikat lain dengan ancaman, Trump sering menggunakan kekuatan ekonomi dan militer sebagai alat pemaksa.
Bagi keduanya, diplomasi hanyalah bentuk lain dari gertakan preman di meja perundingan. Mereka tak segan mencekik sekutu dengan tarif dagang hanya demi keuntungan posisi pribadi.
Manipulasi media menjadi senjata pamungkas berikutnya. Fisk mengontrol narasi melalui intimidasi, sementara Trump mendelegitimasi kritik dengan label “Fake News”.
Taktik gaslighting ini menciptakan pengikut fanatik yang abai terhadap kebenaran objektif. Ketika hukum mulai digunakan untuk menyerang lawan, itulah puncak dari kekuasaan mereka.
Saat Fisk menjadi Walikota, ia mengkriminalisasi musuhnya lewat hukum. Trump menunjukkan kecenderungan serupa: menempatkan loyalis di posisi kunci agar kekuasaan eksekutif berfungsi sebagai perisai pribadi.
Fenomena ini mencerminkan keruntuhan kontrak sosial kita. Di sini, “kebenaran bukan lagi konsensus bersama, melainkan komoditas yang dimanipulasi oleh kehendak kuasa”, kira-kira begitu kata Jean Baudrillard.
Kehadiran mereka membuktikan bahwa masyarakat yang ketakutan cenderung lebih mencintai ketertiban tiran daripada kebebasan yang gaduh. Kekuasaan di tangan seorang “Kingpin” bukan lagi alat keadilan.
Ia berubah menjadi menara gading narsisme yang dibangun di atas reruntuhan etika publik. Ini adalah peringatan nyata bahwa kegelapan sering kali datang dari mereka yang memegang mandat cahaya.
Lalu bagaimana di Indonesia? Ehm …
Makassar, 3 April 2026





