Editor 18 Agustus 2023
Yanuardi Syukur, Founder Rumah Kreatif Indonesia

Adalah sebuah keberuntungan dapat menginjakkan kaki di tanah Mandar, tepatnya di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Sejak 1-3 Agustus 2023 saya datang, ngobrol, dan berkunjung ke destinasi budaya dan religi di Majene. Thamrin Uwai Randang, seorang aktivis literasi berdedikasi, pendiri Rumah Baca dan Museum Naskah “I Manggewilu”, Majene, yang telah menemani sepanjang perjalanan ke destinasi tersebut yang sarat dengan penjelasan historis.

Ini adalah kali keempat saya ke Sulawesi Barat. Pertama kali saat diundang jadi pembedah novel yang lagi hangat ‘Ayat-ayat Cinta’ karya Habiburrahman El Shirazy di gedung KNPI yang terletak di sebuah sudut jalan poros. Sejak itu saya mulai dekat dengan Sulbar. Kali selanjutnya saat diundang jadi pembicara dan juri kegiatan Dinas Perpustakaan Mamuju. Kemudian, ke Polewali bertemu aktivis literasi dasar dari Mamasa, dan selanjutnya yang kemarin.

Selama perjalanan ke tanah Mandar, khususnya Majene dan Polewali saya melihat berbagai kearifan yang menarik. Berikut adalah beberapa hal–tentu masih banyak lainnya–yang dapat kita eksplorasi dari Majene.

  1. Pengetahuan Mendalam Soal Laut

Orang Mandar memiliki pengetahuan mendalam soal laut. Laut tidak ditakuti, tapi dijadikan teman untuk mencapai cita-cita. Ketika layar telah terkembang pantang biduk surut ke pantai; maknanya, laut dengan arus, angin, dan gelombangnya bukanlah halangan untuk mencapai tujuan. Justru itu menjadi inspirasi manusia untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Maknanya, masalah sangat mungkinlah adalah jalan keluar untuk mencapai sesuatu.

Pengetahuan tradisional orang Mandar setidaknya ada tiga: pertama ilmu kelautan, pengetahuan tentang perahu, dan pengetahuan tentang belayar. Ilmu kelautan meliputi apa saja yang perlu diketahui dalam ciptaan Tuhan bernama laut; atau nature-nya laut seperti apa, itu harus diketahui seorang pelaut. Mereka juga ahli dalam membuat perahu, bahkan jenis perahunya bervariasi. Kemudian, ilmu berlayar dengan segala terkait itu juga mutlak dimiliki seorang pelaut Mandar.

Tome Pires (1468-1540), seorang apoteker, colonial administrator dan diplomat Portugis menyebut orang Mandar sebagai pelaut ulung yang disebabkan oleh ketidaksuburan tanah mereka untuk cocok tanam. Wilayah pelayaran mereka hingga ke Maluku, Papua Nugini, Jawa, Sumatera, dan Australia (saat ini, diaspora orang Mandar bahkan telah hadir di berbagai negara di dunia). Perahu Sandeq adalah ikon orang Mandar, warisan zaman Austronesia. Perahu ini bisa mencapai 15-20 knot atau sekira 30-40 Km dalam kondisi angin yang baik.

Dari letak geografis, pengetahuan mendalam soal laut adalah warisan berharga dalam budaya Mandar. Jika melewati jalan poros ke Makassar atau Mamuju kita akan melihat betapa laut sangat dicintai oleh masyarakat. Dari Villa Bogor, sebuah hotel di ketinggian, kita bisa melihat Majene yang teramat dekat dengan pantai. Rumah-rumah yang berdiri dekat-dekatan di sepanjang jalan menuju Kompleks Makam Raja-Raja Banggae awalnya tidak ada tapi kemudian ada sebagai bentuk keterikatan manusia dengan laut.

  1. Tegak Lurus pada Kebenaran

Salah satu sosok masyhur dari tanah Mandar adalah Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa (27 Agustus 1935 – 3 Juli 2001). Pak Lopa adalah sosok ‘manusia Mandar’ yang tegak lurus pada kebenaran. Istilahnya, pikiran dan tindakannya tidak bengkok-bengkok. Maka, wajar sampai sekarang orang mengagumi keistiqamah beliau, bahkan merindukan sosok beliau yang tegas, sederhana, dan punya marwah. Beliau pernah menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia dari 6 Juni 2001 sampai wafatnya pada 3 Juli 2001.

Diceritakan bahwa Pak Lopa pernah diberikan mobil baru, tapi ia menolak. Ia justru ingin membeli mobil tersebut dengan cicilan dari uang gajinya sendiri. Jika dipikir-pikir, tidak mudah bisa jadi orang seperti beliau; apalagi pemberian adalah sesuatu yang manusiawi, normal dalam pergaulan sosial. Beliau memilih untuk tidak tergantung dengan orang lain, menjadi pribadi merdeka.

Karakter tegak lurus ini juga menjadi syarat bagi calon raja. Sebagai contoh, untuk menjadi raja (mara’dia) di Kerajaan Sendana, salah satu kerajaan dalam 14 konfederasi Mandar, seseorang harus memiliki moral yang baik, teguh pendirian, konsisten, adil, jujur, kuat jiwa dan raga, bijaksana, dan berani di atas kebenaran. Darmansyah dalam ‘Sendana: Kerajaan Maritim Bercorak Islam’ (2019) menulis, “…selain berakhlak mulia, tegas dan jujur…[seorang calon raja] juga luas-dalam ilmunya, utamanya ilmu yang menyebabkan takut kepada Allah.

Ketika seseorang terpilih menjadi raja Sendana, maka dia akan menyampaikan kata-kata sumpah yang dipandu seorang tokoh adat yang terjemahannya sebagai berikut:

“Kami besarkan engkau

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*