Editor 18 Agustus 2023

Menjadi orang mulia mensyaratkan satu sikap: “saling menjadikan manusia atau saling memanusiakan” atau “sipattau.” Tau artinya ‘orang’, sipa artinya “saling menjadikan.”

Seorang ulama besar Minangkabau dan Ketua Umum MUI pertama (26 Juli 1975-19 Mei 1981; 5 tahun, 297 hari), Buya Hamka memiliki pengalaman berharga dengan Mandar. Novelnya ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’ ditulis tak lama setelah ia dua kali berkunjung ke Mandar; pada 1932 beliau ke Majene, Balanipa, Polewali, Pambuang, dan Pambusuang, dan pada 1934 beliau membawa anak-anak muda Mandar berlayar ke Padang: Abdus Syukur bin Abdurrahim, Abdurraman, Abdurrahim (selanjutnya tinggal di Singapura), dan menyusul Ustadz Zainal Abidin (kelak jadi kepala kantor agama di Mandar).

Pada 28 Februari 1970, Hamka menerima sarung Mandar asli yang sangat berharga dari Mahmud Ahmad, seorang anggota Pimpinan Muhammadiyah Wonomulyo, Polewali, dan menulis sebagai berikut:

“…bagi kami orang Minangkabau, kain Mandar adalah kain adat. Menurut nenek moyang kami, kalau di sebuah rumah atau keluarga tidak ada kain Mandar, walaupun satu helai, merasa sangat kekuranganlah dari segi adat. Sebab kain Mandar adalah pakaian penganten seketika pulang ke rumah penganten perempuan. Kain Mandar pakaian pengulu (datuk-datuk kepala adat) ketika mereka pergi ke tempat pertemuan umum.”

Hamka ke Makassar atas permintaan Pimpinan Muhammadiyah Cabang Makassar dengan tugas khusus: membangkitkan semangat rakyat menjelang Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar. Mengutip Muh Ihsan Haharap (Tribunnews, 7 Agustus 2015), Mustari Bosra menulis, “setiap hari tidak kurang dari 5000 orang yang menonton dari luar arena kongres, menandakan antusias masyarakat untuk mengenal lebih dekat organisasi ini. Total sebanyak 4 cabang dan 39 grup terbentuk setahun setelah kongres ini, dimana sebelumnya hanya ada 2 cabang dan 15 grup. Jumlah sekolah dan masjid pun mengalami perkembangan yang sangat pesat.”

Pimpinan Muhammadiyah Makassar memanfaatkan kehadiran Hamka. Setelah kongres terlaksana, kemudian didirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Muallimin di Makassar, dan dua tahun kemudian (1934) didirikan MTs di Majene. Untuk sekolah MTs di Makassar, Hamka bertindak sebagai kepala sekolahnya yang pertama. Masih dari tulisan Mustari Bosra (2008) yang dikutip Muh Ihsan Harahap, ditulis sebagai berikut:

“Menurut laporan Konsul Muhammadiyah Sulawesi pada Konferensi ke-16 tahun 1941 di Sengkang, Muhammadiyah Sulawesi Selatan memiliki 6 cabang dan 76 grup berisi 7000 orang, kurang lebih 30.000 orang simpatisan, masjid dan mushalla 41 buah, Sekolah Diniyah (setingkat sekolah dasar/SD) sebanyak 52 buah, Sekolah HIS sebanyak 4 buah, guru sebanyak 79 orang dan murid kurang lebih 5000 orang.”

Artinya, keberangkatan ‘anak-anak muda Mandar’ berlayar ke Padang adalah bagian dari penguatan dakwah dan institusi pendidikan yang telah didirikan di Majene pada 1934 tersebut. Kelak, sepulang dari Padang diharapkan mereka dapat memperkuat dakwah Islam di Majene. Mendukung kader-kader muda adalah bagian penting dari kaderisasi dakwah Islam sekaligus untuk membangun daerah.

Terminal 3 CGK, Jum’at, 4 Agustus 2023

Terima kasih atas silaturahmi dan obrolan dengan: Thamrin Uwai Randang, Ahmad Akbar, Andi Ismira (dan suami), Khalil Nurul Islam, Ibu Murti KS, Pak Nardi, Pak Suddin, Pak Masmudin, Pak Jalil dan Kepala Museum Mandar Majene selama saya berada di Majene. Juga terima kasih kepada Pak Adi Arwan Alimin Mandar dan Pak Uut Fauzan Gagah Katanya. Terkait salinan surat Buya Hamka, saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Thamrin Uwai Randang. Tulisan ini adalah bagian dari upaya belajar lebih dalam kearifan dari tanah Mandar.

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*