Thamrin Uwai Randang, aktivis literasi Majene bercerita bahwa budayawan Emha Ainun Nadjib menyebut Mandar sebagai tanah religius, sebuah kawasan yang sarat dengan religiusitas. Siapa yang ingin belajar religi, maka pergilah ke Mandar, kira-kira seperti itu. Di Museum Mandar Majene ada beberapa tokoh agama, ulama Mandar yang tidak hanya belajar di Sulsel tapi juga di tanah Jawa sampai ke Arab.
Satu hal yang cukup penting terkait ini adalah bagaimana agar budaya religius itu dapat terus terjaga, terwariskan, serta dapat memberi nilai tambah pada ekonomi. Misalnya, destinasi wisata religi yang ada, sebutlah Makam Syekh Abd. Mannan dapat dikelola sedemikian rupa agar mendatangkan banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri. Tentu saja selain event tahunan yang telah dilakukan. Mungkin, membawa koneksi antara ‘dunia Mandar’ dengan ‘dunia luar-Mandar’ sebuah satu kesatuan cukup bagus untuk menjadi daya tarik datangnya wisatawan.
Terkait wisata, beberapa minggu saya berkunjung ke Kawah Ijen, Banyuwangi. Kawah ini awalnya sudah dikenal, namun menjadi daya tarik wisata secara massif setelah kedatangan dua turis asal Perancis, Nicolaus Hulot dan istrinya Katia Kraft pada 1971. Kedua ‘influencer’–kita sebut seperti itu–menulis kisah pesona Kawah Ijen beserta kerasnya kehidupan penambang bongkahan belerang di majalah Geo, Perancis. Sejak itu, kawasan jadi destinasi banyak wisatawan. “Bulan Juli biasanya banyak turis dari Eropa karena mereka lagi liburan,” kata seorang driver ‘taksi tarik & dorong’ kepada saya.
Berarti, mengundang wisatawan atau influencer agar merekam, menulis, memublikasikan Mandar adalah bagian penting dari promosi wisata. Sejauh ini, banyak studi yang membahas tentang Mandar. Studi-studi tersebut ada baiknya untuk diturunkan dalam bentuk yang lebih sederhana dalam berbagai platform yang ramah netizen, seperti Instagram dan TikTok. Dua orang siswa di Sendana, sekira 1 jam naik mobil dari Majene, menyampaikan kepada saya bahwa mereka pakai Instagram dan TikTok. Artinya, internalisasi nilai budaya Mandar dapat dilakukan via dua media tersebut–selain media lainnya tentu saja–sekaligus untuk promosi orang luar yang hendak wisata ke sini.
- Persahabatan sebagai Basis Keteraturan Sosial
Berbagai studi antropologi persahabatan menunjukkan bahwa persahabatan adalah basis penting dalam integrasi sosial. Sebaliknya, retaknya persahabatan dapat berdampak serius pada disintegrasi sosial. Maka, bersahabat adalah kunci untuk menciptakan keteraturan, bahkan kemakmuran bersama.
Orang Mandar memahami pentingnya persahabatan di tingkat elite melalui perjanjian bersama (assitalliang) konferedesi 14 kerajaaan; 7 di Pitu Ulunna Salu dan 7 di Pitu Ba’bana Binanga; kolaborasi antara pesisir dan daratan. Afiat Mulwan, dalam ‘Sipamandar dan Loa Tomatua’ (2022)–sebuah antologi bersama Bustan Basir Maras, Ahmad Akbar, Mohammad Fahmy, Abd. Rahman Hamid, Wahyudi Hamarong, Busra Basir MR, dan Muhammad Irfan–menulis, “…kerajaan-kerajaan yang bersatu dan menjalin kerjasama, maka jika satu membangunkan, semua akan terjaga. Jika salah satunya tersakiti, semua akan menderita.”
Dalam konteks lebih luas, keindonesiaan kita adalah bagian dari ikatan persahabatan antaretnik, afiliasi, agama, dan sebagainya yang menguatkan bangsa Indonesia. Ikatan persahabatan itu perlu dijaga untuk menciptakan integrasi dan kemakmuran bersama. Artinya, persahabatan dalam konteks kecil–antarorang, antarkeluarga, antarkomunitas–hingga dalam konteks besar–antaretnik, antarprovinsi, antarlembaga nasional–perlulah memiliki dampak pada kemakmuran bersama.
- Pewarisan Budaya Menulis
Kekayaan tradisi Mandar menarik untuk ditulis. Telah banyak menulis yang membahas terkait Mandar, seperti Muhammad Ridwan Alimuddin yang menulis ‘Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman’ (KPG, 2005), Abd. Rahman Hamid berjudul ‘Jaringan Maritim Mandar: Studi tentang Pelabuhan “kembar” Pambauwang dan Majene di Selat Makassar, 1900-1980’ (Ombak, 2021).
Karya lainnya, seperti ‘Sipamandar & loa Tomatua: Kontekstualisasi Nilai Sipamandar dalam Petuah Leluhur Mandar’ (Bustan Basir Maras, ed., 2022), ‘Pendekatan Budaya Mandar’ Ibrahim Abbas (2015) dan ‘Sendana: Kerajaan Maritim Bercorak Islam’ karya Darmansyah (2019) adalah bagian dari pemerkaya studi terkait Mandar, dari sekian banyak studi lainnya.
Dalam bincang literasi ‘Membumikan Literasi Menulis di Tanah Mandar’ yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena Sulawesi Barat, Rumah Produktif Indonesia, dan Universitas Sulawesi Barat di T-Bink Cafe dan Pustaka (Rabu, 2 Agustus 2023) diperoleh kesimpulan pentingnya menghidupkan tradisi literasi di kalangan anak muda di Majene dan sekitarnya. Bahwa kekayaan budaya perlu dieksplorasi lebih mendalam dan dikemas dalam berbagai bentuk terkini. Misalnya, pembuatan konten destinasi religi dan budaya yang disebar dalam berbagai platform media sosial, atau penulisan buku secara lebih massif terkait ‘dunia Mandar.’
- Menjadi Orang Mulia
Manusia adalah makhluk mulia. Ibrahim Abbas dalam ‘Pendekatan Budaya Mandar’ (2015: 172), menulis bahwa dalam budaya Mandar, ada sebuah kalimat bijaksana sebagai berikut:
“Jika jika kita mau menjadi orang mulai dan terhormat, marilah kita perbaiki tutur kata dan perilaku. Sebab, kata-kata dan perilaku jualah yang disebut manusia. Karena itu yang dinilai orang lain.”
Manusia, kata-katanya dipegang: Tau paunna nituqgalang.
Hewan, talinya dipegang: Oloq-oloq gulanna nituqgalang.





