
Dosen Ilmu Politik UTS Makassar
Peralihan kekuasaan dan ketidakpastian politik dapat menyebabkan ketegangan sosial yang tinggi di negara itu. Pemerintah kemungkinan akan mengambil langkah-langkah cepat untuk menjaga kestabilan internal dan mempertahankan kontrol, yang mungkin termasuk peningkatan tindakan represif terhadap oposisi, pembatasan kebebasan sipil, serta penguatan posisi faksi-faksi yang memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sementara itu, dalam ranah kebijakan luar negeri, Iran akan menghadapi tantangan besar dalam mengatur kembali kebijakan luar negerinya, baik terhadap negara-negara Barat maupun negara-negara di kawasan Timur Tengah. Dalam jangka panjang, yaitu 1-5 tahun ke depan. yang akan menjadi fokus adalah perubahan mendalam dalam struktur politik Iran dan dampaknya terhadap keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah. Jika IRGC berhasil mengonsolidasikan kekuasaan, mereka akan berusaha menjaga stabilitas di dalam negeri, tetapi dalam prosesnya mungkin akan memperburuk ketegangan etnis dan sektarian, terutama di daerah-daerah yang memiliki gerakan separatis yang kuat.
Dalam kebijakan luar negeri, sebuah rezim yang lebih pragmatis atau pro-Barat akan mempengaruhi hubungan Iran dengan negara-negara di kawasan, serta dengan kekuatan besar seperti AS, Rusia, dan China. Iran kemungkinan akan mengejar aliansi yang lebih luas untuk mempertahankan posisi regionalnya.
Aktor Kunci dalam semua ini secara internal melibatkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC): IRGC memiliki pengaruh besar dalam politik domestik Iran dan akan berusaha untuk mengonsolidasikan kekuasaan dalam kekosongan kepemimpinan. IRGC bukan hanya kekuatan militer yang kuat, tetapi juga aktor ekonomi yang dominan dalam sektor-sektor penting seperti energi dan infrastruktur. Jika IRGC mengambil kendali, mereka akan lebih fokus pada pengamanan sistem Velayat-e Faqih dan mempertahankan kekuasaan di tangan elit konservatif.
Aktor lain adalah Dewan Ahli Kepemimpinan. Dewan ini bertanggung jawab memilih Pemimpin Tertinggi yang baru. Dewan ini, meskipun terdiri dari para ulama, tetap akan sangat dipengaruhi oleh tekanan politik baik dari dalam maupun luar negeri. Jika Dewan ini gagal mengatasi ketegangan internal atau memilih pemimpin yang tidak diterima oleh faksi-faksi kunci, hal itu dapat menyebabkan ketidakstabilan yang lebih lanjut.
Di Iran, juga terdapat faksi konservatif garis keras dan reformis.Faksi konservatif cenderung mendukung kekuasaan ulama yang kuat dan melanjutkan kebijakan yang menantang Barat. Sementara itu, faksi reformis berharap ada perubahan yang dapat membuka lebih banyak ruang bagi kebebasan politik dan sosial. Perbedaan ideologi ini dapat menyebabkan ketegangan yang lebih besar setelah kematian Khamenei.
Yang tak kalah pentingnya, yaitu masyarakat sipil dan gerakan oposisi. Mereka tampaknya mendapat angin segar setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei. Dengan dukungan Amerika dari luar, protes dan gerakan sosial, seperti gerakan “Wanita, Kehidupan, Kebebasan,” yang berfokus pada isu-isu hak asasi manusia dan kebebasan politik, kemungkinan akan meningkat jika rezim tidak dapat menjaga stabilitas. Gerakan oposisi ini dapat memperoleh momentum , terutama jika mereka merasa bahwa perubahan yang diinginkan dapat tercapai.
Secara eksternal, aktor kunci yang berpengaruh adalah Amerika Serikat dan Israel. Sebagai negara-negara yang memiliki ketegangan dengan Iran, AS dan Israel akan berperan penting dalam menanggapi peristiwa ini. AS dan Israel kemungkinan besar akan berusaha memanfaatkan ketidakstabilan untuk mengurangi pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah. Mereka mungkin mempercepat upaya diplomatik atau bahkan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran jika situasi di dalam negeri Iran semakin tidak stabil.
Sementara, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memiliki kepentingan untuk melihat Iran lebih lemah dan terkendali. Mereka akan berusaha untuk memanfaatkan ketidakstabilan ini untuk memperkuat posisi mereka di kawasan. Namun dalam beberapa masa ke depan, Rusia dan China, sebagai dua kekuatan besar yang memiliki hubungan erat dengan Iran, kemungkinan akan terlibat lebih jauh dalam menjaga hubungan strategis mereka. Keduanya akan berusaha untuk memperkuat aliansi dengan Iran, baik melalui kerjasama ekonomi, politik, atau militer, untuk menghadapi pengaruh AS di kawasan.
Potensi-Potensi Politik yang akan Terjadi





