Editor 28 Februari 2026
  1. Konsolidasi Otoriter-Birokratis

    Setelah kematian Khamenei, IRGC akan menjadi aktor kunci dalam menjaga kestabilan politik Iran. Mereka memiliki sumber daya yang cukup untuk mengendalikan militer, kepolisian, dan sektor-sektor ekonomi penting. IRGC dapat mengusulkan suksesi pemimpin yang sealiran dengan prinsip-prinsip Velayat-e Faqih dan terus memperkuat kontrol mereka atas politik domestik. Skenario ini dapat menciptakan stabilitas dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, penguatan kekuasaan IRGC akan memperburuk pelanggaran hak asasi manusia, penindasan terhadap oposisi, dan memperburuk ketegangan sektarian di dalam negeri. Ketegangan antara kelompok etnis seperti Kurdi, Baluch, dan Arab mungkin meningkat.

  2. Eskalasi Menjadi Konflik Sipil atau Disintegrasi

    Ketegangan antara elit politik Iran yang bersaing untuk kekuasaan dapat mengarah pada perpecahan dalam struktur negara. Gerakan separatis, terutama di daerah-daerah yang memiliki identitas etnis yang kuat seperti Kurdistan, Sistan-Baluchestan, dan Khuzestan, dapat memanfaatkan ketidakstabilan ini untuk memperjuangkan kemerdekaan atau otonomi. Skenario ini dapat menyebabkan disintegrasi politik yang lebih besar di dalam Iran. Ketidakmampuan pemerintah untuk mengelola ketegangan ini dapat menyebabkan kekosongan keamanan, memperburuk krisis pengungsi, dan memicu protes massa yang meluas. Jika terjadi konflik sipil, Iran bisa mengalami keruntuhan struktur negara yang parah, dengan kekuatan-kekuatan luar yang mungkin turut campur.

  3. Reformasi Sistemik (Model Gorbachev)

    Faksi pragmatis dan reformis dapat memanfaatkan kekosongan kepemimpinan untuk memulai reformasi besar. Salah satu perubahan yang mungkin adalah pembatasan kekuasaan ulama dan pengalihan kekuasaan lebih banyak ke tangan kelompok sekuler atau kolektif. Faksi ini berharap untuk membuka lebih banyak ruang bagi kebebasan politik, kebebasan pers, dan dialog sosial. Jika faksi reformis berhasil, Iran dapat mengalami perubahan besar menuju sistem politik yang lebih inklusif dan demokratis. Namun, skenario ini membutuhkan perubahan mendalam dalam struktur politik Iran dan mungkin akan bertemu dengan perlawanan kuat dari konservatif garis keras dan IRGC.

  4. Restorasi Monarki

    Dalam skenario ini, AS dan Israel dapat mendukung kembalinya dinasti Pahlavi yang dipimpin oleh Reza Pahlavi. Skenario ini mengasumsikan bahwa Iran dapat dipengaruhi oleh negara-negara Barat untuk kembali ke sistem monarki. Kembalinya monarki di Iran dapat menciptakan ketidakstabilan sosial dan politik. Basis dukungan untuk keluarga Pahlavi sangat terbatas, dan banyak segmen masyarakat Iran yang tidak menerima sistem monarki. Jika dipaksakan, hal ini dapat menyebabkan perlawanan kuat dari rakyat Iran dan memperburuk ketegangan politik.

Skenario Kebijakan Luar Negeri & Regional

  1. Normalisasi dan Perubahan Poros

    Jika rezim baru yang lebih pragmatis berkuasa, kebijakan luar negeri Iran dapat beralih menuju hubungan yang lebih ramah dengan negara-negara Barat dan Arab Teluk. Hal ini akan menghancurkan “Poros Perlawanan” yang selama ini menjadi pilar kebijakan luar negeri Iran, yang mencakup Hizbullah, Houthi, dan milisi Irak. Perubahan ini dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah. Iran mungkin akan kehilangan pengaruh yang sebelumnya dimilikinya atas kelompok-kelompok ini, tetapi akan memperoleh keuntungan dari hubungan yang lebih baik dengan negara-negara Teluk dan Barat. Skenario ini juga dapat mempengaruhi hubungan antara Iran dan negara-negara sekutu seperti Rusia dan China.

  2. Perang Berkepanjangan (Zona Abu-abu)

    Jika Iran tidak dapat mengonsolidasikan kekuasaan secara efektif, negara ini mungkin akan bergantung pada perang proksi dan senjata asimetris untuk mempertahankan posisinya. Serangan terhadap Selat Hormuz atau serangan terhadap kapal-kapal internasional adalah contoh dari potensi eskalasi konflik yang bisa digunakan untuk meningkatkan biaya bagi lawan. Perang ini dapat menyebabkan ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah, mempengaruhi pasar energi global, dan meningkatkan kemungkinan intervensi militer internasional.

  3. Akselerasi Program Nuklir Militer

    Setelah serangan yang mengancam eksistensinya, Iran mungkin akan mempercepat program nuklirnya sebagai langkah untuk memperkuat deterrence. Hal ini akan menciptakan lebih banyak ketegangan di kawasan dan menarik perhatian komunitas internasional. Program nuklir yang lebih agresif akan menyebabkan meningkatnya ketegangan dengan negara-negara Barat, kemungkinan besar akan memperburuk isolasi internasional Iran, dan bisa mendorong negara-negara seperti Arab Saudi dan Turki untuk mengejar program nuklir mereka sendiri.

 Skenario Dampak Global & Tata Dunia

  1. Pelemahan Hukum Internasional

    Serangan terhadap pemimpin negara berdaulat oleh kekuatan asing dapat membuka preseden yang melemahkan norma-norma hukum internasional. Jika negara-negara besar dapat bertindak sewenang-wenang terhadap pemimpin negara lain, ini akan mempengaruhi kredibilitas dan stabilitas hukum internasional. Hal ini dapat menyebabkan pengabaian terhadap prinsip-prinsip non-intervensi dan kedaulatan negara, meningkatkan kemungkinan konflik internasional, dan memperburuk ketegangan antara negara-negara besar.

  2. Akselerasi Polarisasi Blok Kuasa

    Skenario ini dapat memperdalam kerja sama antara Iran, Rusia, dan China. Ketiganya akan berusaha untuk menghadapi dominasi AS dan membentuk tatanan dunia multipolar yang lebih menantang hegemoni Barat. Perkembangan ini dapat memperburuk ketegangan antara blok-blok besar dunia dan mempengaruhi sistem internasional yang lebih luas, berpotensi memicu perang dingin baru antara kekuatan besar.

Meski banyaknya potensi-potensi politik yang akan terjadi. Skenario domestik yang paling mungkin pasca kematian Ayatollah Khamenei adalah konsolidasi otoriter-birokratis oleh IRGC, yang dapat menjaga kestabilan dalam jangka pendek tetapi meningkatkan ketegangan sosial dan pelanggaran hak asasi manusia dalam jangka panjang. Dalam jangka panjang, perubahan kebijakan luar negeri yang lebih pragmatis mungkin terjadi jika rezim baru yang lebih moderat berkuasa. Hal ini dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan dan memperburuk ketegangan antara Iran dan sekutunya dengan negara-negara Barat.

Implikasi kebijakan untuk Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya adalah bahwa perkembangan di Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan Iran, perlu dipantau dengan seksama. Ketidakstabilan yang terjadi dapat berdampak langsung terhadap ekonomi global, harga energi, serta stabilitas kawasan. Negara-negara seperti Indonesia harus menyiapkan kebijakan yang hati-hati dalam menghadapi potensi dampak dari ketegangan di kawasan ini, baik dalam hubungan diplomatik, kebijakan energi, maupun strategi keamanan nasional.

*Disadur dari berbagai sumber

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*