Debat Stagflasi: Antara “Buy the Dip” dan “Angin Stagflasi”
Di Wall Street, terjadi perpecahan tajam. Di satu kubu, JPMorgan justru mendorong kliennya untuk “buy the dip,” menyebut eskalasi ini sebagai gangguan sementara . Gary Black, managing partner The Future Fund, optimistis: “Kami melihat volatilitas ini sebagai sesuatu yang sementara; begitu konflik mereda, harga minyak akan turun kembali.” Ia memproyeksikan pertumbuhan laba S&P 500 sebesar 12% year-over-year, mencapai $310 pada akhir 2026 .
Namun di kubu sebaliknya, Mohamed El-Erian, penasihat ekonomi utama Allianz, memperingatkan skenario yang jauh lebih kelam. Berbicara kepada CNBC, El-Erian mengatakan “angin stagflasi mulai berhembus melintasi ekonomi AS.” Ia menekankan bahwa dampak global sepenuhnya tergantung pada “durasi dan perluasan perang. Semakin lama berlangsung, semakin meluas, maka semakin stagflatif dampaknya bagi ekonomi global” .
Apa itu stagflasi? Istilah yang populer di era 1970-an ini menggambarkan kombinasi beracun: pertumbuhan ekonomi stagnan atau negatif, inflasi tinggi, dan pengangguran meningkat—kondisi yang seharusnya tidak terjadi bersama dalam teori ekonomi konvensional .
Pelajaran 1973: Mimpi Buruk yang Kembali Menghantui
Sejarah mencatat bagaimana krisis minyak dapat menghancurkan ekonomi. Krisis minyak 1973 dipicu Perang Yom Kippur—saat negara-negara Arab di OAPEC mengembargo ekspor minyak ke negara pendukung Israel, termasuk AS . Dampaknya mengerikan: harga minyak melonjak dari $2,95 menjadi $11,65 per barel dalam hitungan bulan, dan harga minyak dunia meningkat 300% pada 1974 .
AS mengalami stagflasi parah. Pada 1975, inflasi AS mencapai 12%, dan negara-negara industri seperti Inggris serta Jepang mencatat pertumbuhan negatif . Krisis kedua pada 1979, dipicu penghentian ekspor minyak Iran, membawa inflasi AS ke level 14,8%, memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga federal funds rate hingga 22,36% .
Yang perlu dicermati: sebelum krisis 1973, AS sempat melonggarkan kuota impor minyak pada 1972 karena beberapa negara bagian merasa lebih mudah dan murah menggunakan minyak impor daripada produksi dalam negeri—mirip dengan situasi AS saat ini yang masih bergantung pada minyak impor meski produksi domestik meningkat .
Kenaikan harga minyak tidak berhenti di pompa bensin. James Knightly, kepala ekonom internasional ING, memperkirakan jika harga minyak mentah mencapai $100 per barel, harga bensin di AS bisa melonjak dari $3 menjadi sekitar $4,50 per galon—kenaikan 50%—yang akan menaikkan inflasi CPI AS sebesar 1,5 poin persentase .
Dampaknya merambat ke seluruh sendi ekonomi. Biaya logistik membengkak, harga bahan makanan naik, tiket pesawat melambung. Ketika konsumen harus membayar lebih untuk energi dan pangan, daya beli untuk barang lain tergerus—pertumbuhan ekonomi melambat. Inilah mekanisme stagflasi bekerja.
Pertanyaan kunci yang kini menghantui para pembuat kebijakan: apakah perang ini akan memaksa The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat, atau justru memicu resesi baru?
Janet Yellen, mantan Ketua The Fed, memberikan peringatan tegas. Dalam konferensi pengiriman TPM26 milik S&P Global, Yellen mengatakan bahwa risiko kenaikan harga energi akibat konflik Iran akan “secara signifikan memperburuk tekanan inflasi AS, memaksa The Fed menjadi lebih konservatif dan ragu-ragu dalam keputusan penurunan suku bunga” . Ia menekankan bahwa inflasi AS saat ini sudah berada di atas target 2%, kebijakan tarif Trump telah mendorong inflasi, dan kenaikan harga minyak akibat konflik Iran menjadi “gangguan inti inflasi baru yang tidak terkendali” .
Pasar mulai merespon. Berdasarkan perhitungan pasar fed funds futures, pemangkasan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada Juli kini mundur menjadi September . Namun yang lebih menarik: meskipun ekspektasi pemangkasan mundur, pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan 25 basis poin pada akhir tahun . Ini mencerminkan keyakinan bahwa The Fed pada akhirnya akan lebih memilih melawan resesi daripada melawan inflasi jika perang berkepanjangan.
Di Eropa, Philip Lane, Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB), mengatakan analisis sensitivitas ECB menunjukkan bahwa perang berkepanjangan di Timur Tengah akan menyebabkan “lonjakan substansial” inflasi akibat energi dan “penurunan tajam” output ekonomi .





