“Posisi saya adalah bahwa saya tidak ingin menjadi musuh negara mana pun tetapi saya harus menyajikan kasus ini dengan sangat jelas, bahwa Anda tidak dapat melanjutkan semua kekejaman yang dilakukan pada negara yang lebih kecil dan lebih miskin karena dari ancaman terhadap kelangsungan hidup Anda sendiri.”
“Saya tidak memaafkan tindakan kekerasan atau kekejaman apa pun yang dilakukan terhadap siapa pun, tetapi Anda tidak dapat menyamakan ini. Anda merampas tanah mereka, rumah mereka, properti mereka, dan Anda berkata, ‘Bisakah kita bernegosiasi?’ ‘Bisakah kita menghentikan mereka dari melempar batu?’ Dan ketika mereka melempar batu, Anda menembak mereka!”
Ibrahim mengatakan ini adalah “sumber masalahnya.”
Dia menambahkan bahwa Palestina “bukan masalah Muslim, juga bukan Islam.”
“Ini adalah perampasan… Ini adalah masalah kemanusiaan. Saya berdoa, Insya Allah, kami mendapatkan lebih banyak kewarasan dan objektivitas!”
Legitimasi berasal dari rakyat
Berbicara soal ketidakstabilan politik di Pakistan yang dipicu penggulingan pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan pada bulan April, Ibrahim mengatakan prinsip dasar demokrasi atau nilai-nilai demokrasi “adalah bahwa rakyat harus memutuskan sendiri.”
“Ini tidak tergantung pada orkestrasi beberapa kekuatan asing… Periode imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme harus diakhiri dan diakhiri,” jelasnya.
Khan, ketua partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (Gerakan untuk Keadilan), yang digulingkan pada 10 April melalui mosi tidak percaya dan menuduh pemungutan suara parlemen untuk menggulingkannya dilakukan atas perintah Washington.
Anwar mengatakan Khan telah membuat “argumen menarik untuk membuktikan tuduhannya terhadap intervensi atau campur tangan kekuatan asing.”
“Banyak negara di Amerika Latin dan Afrika telah menyaksikan ini,” katanya mengenai dugaan operasi perubahan rezim.
Dalam wawancara baru-baru ini, mantan pejabat AS telah mengakui bahwa Washington terlibat dalam merencanakan penggulingan pemerintah di negara-negara asing.
“Saya tidak berpikir itu adalah sesuatu yang kita terima atau maafkan,” kata Anwar.
Dia menambahkan orang-orang di Pakistan “ingin memutuskan sendiri siapa yang harus memerintah mereka dan sistem apa yang mereka adopsi.”
“Pakistan bukan konglomerat kaya; bukan negara adidaya atau kekuatan asing yang harus menentukan masa depan,” tambahnya.
“Malaysialah yang memutuskan sendiri… Meski begitu, kami mengambil posisi di mana kami harus bersahabat dengan semua negara,” jelasnya.
Pakistan, tambahnya, dibentuk untuk “memastikan ada demokrasi, demokrasi Muslim (seperti) yang dibayangkan oleh (pendirinya) Quaid-e-Azam Muhammad Ali Jinnah.”
“Kita tidak boleh membiarkan kekuatan asing ikut campur dalam urusan internal negara,” kata Anwar.
Dia mengatakan legitimasi pemerintah berasal dari rakyatnya.
“Jika Anda adalah pemerintah sah yang mewakili suara dan hati nurani mayoritas, Anda akan memiliki keberanian untuk mengamankan kemerdekaannya,” kata Anwar, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil perdana menteri Malaysia.
“Jika Anda membentuk pemerintahan atas perintah kekuatan asing, Anda tentu saja akan terikat pada mereka.
“Negara-negara Muslim, ketika kita berbicara tentang demokrasi dan nilai-nilai demokrasi, harus memastikan bahwa mereka mendapat dukungan dari mayoritas rakyat dan untuk menavigasi negara sesuai dengan apa yang terbaik untuk negara mereka,” tuturnya.
Karena itu, Anwar menambahkan, AS “masih merupakan negara penting bagi kami.”
Anwar Ibrahim mengatakan negara-negara Muslim harus menjaga hubungan dengan Barat “tetapi tidak setuju dengan keputusan sepihak.”
Dia mengatakan negara-negara Barat harus menerima bahwa dalam menghadapi kompleksitas hubungan multikultural dan internasional, “dunia tidak bisa lagi menjadi unipolar.”
“Dan kita tidak bisa dipaksa untuk masuk ke dalam aliansi semacam ini tanpa memperhatikan kompleksitas yang kita hadapi,” tambahnya.
ASEAN harus mengambil posisi yang lebih kuat terhadap Rohingya
Anwar mengatakan ASEAN telah mengambil posisi “lebih positif dari apa yang saya saksikan sejak 1990-an” berkaitan dengan nasib komunitas Rohingya.
“Sedikit berubah setelah Eropa memimpin,” katanya, mengenai respons ASEAN terhadap penganiayaan Myanmar terhadap Rohingya.
“Kami berurusan dengan tetangga kami sendiri. Ya, pada prinsipnya, Anda tidak boleh ikut campur.”
“Tetapi orang-orang dibunuh. Ketika rumah mereka dibakar, Anda tidak bisa diam.
“Ini tentang kemanusiaan, tentang keadilan dasar, dan mempengaruhi negara kita. Ribuan orang datang dan Anda berkata ‘Tidak, tidak, kami tidak bisa ikut campur’.”
Dia mengatakan tidak masuk akal untuk tetap diam dalam situasi seperti itu.
“Posisi kami adalah agar pemerintah bergerak maju dan mengambil posisi yang kuat — lebih kuat dari yang ada sekarang,” tambahnya.
Tentang kebijakan non-intervensi dalam masalah internal, Anwar mengatakan penghargaan harus diberikan kepada ASEAN “karena ASEAN relatif sukses karena kebijakan non-intervensinya bahwa Anda dapat bekerja dan membangun bersama sebagai sebuah kawasan.”
Hubungan dengan Turki
Memuji hubungan bilateral dengan Turki sejak zaman negara Ottoman, Ibrahim mengatakan hubungan antara “wilayah kami dan kekaisaran Ottoman lebih dari sekadar hubungan diplomatik atau perdagangan biasa tetapi juga hubungan budaya dan pendidikan”.
“Hubungan yang ada saat ini perlu dieksplorasi lebih lanjut,” katanya.
Meskipun mengakui bahwa target perdagangan bilateral sebesar USD5 miliar antara Malaysia dan Turki adalah sesuatu yang signifikan, namun jikamelihat kekuatan ekonomi Turki dan potensi di Malaysia, nilai itu masih kecil, “yang berarti kita harus mengambil langkah-langkah yang lebih efektif untuk mempromosikan ini.”
“Sebenarnya sama sekali tidak ada alasan sama sekali bahwa negara sahabat Malaysia dan Turki tidak dapat memperluas hubungan bilateral.”
Dia mengatakan bahkan sebagai pemimpin oposisi di parlemen, “Saya sangat mendukung dan mendorong pemerintah untuk menyambut dan melihat jalan untuk meningkatkan hubungan” dengan Turki.
“Tetapi saya selalu mengatakan bahwa itu harus melampaui perdagangan. Perdagangan masih fundamental, sangat penting. Investasi, pendidikan…Pada tahun 80-an dan 90-an, kami mendorong siswa dari Turki untuk pergi ke Malaysia. Cukup banyak dari mereka yang menjadi profesor dan mahasiswa,” kenangnya.
“Sekarang keadaan telah berubah. Malaysia, sayangnya dibiarkan mandek, tetapi Turki telah berkembang dan institusi pendidikan telah lebih ditingkatkan,” katanya.
Ibrahim mengatakan kedua negara juga harus fokus pada penelitian bersama dan inisiatif teknologi “karena teknologi Turki, termasuk teknologi pertahanan, jauh melampaui banyak negara lain, terutama negara-negara Muslim.”
Misalnya, ada “keberhasilan Anda dalam drone dan helikopter, yang kita sebagai negara sahabat lihat dan tinjau dengan pikiran terbuka, bukan untuk terpikat oleh pandangan lama memandang Barat atau beberapa negara kaya lainnya,” tambahnya.
“Potensinya sangat besar. Saya tahu kekuatan dan potensi perdagangan antara kedua negara ini.”
Pesan untuk orang Malaysia
Karena pemilihan umum diharapkan kapan saja sekarang di Malaysia, Anwar meminta warga untuk “memilih apa yang terbaik untuk negara.”
“Perekonomian hampir lesu. Integritas pimpinan dipertanyakan. Ada korupsi endemik,” tudingnya.
“Itu hak rakyat untuk memutuskan. Ini adalah waktu terbaik untuk mengubah jalannya sejarah kita. Kami tidak bisa ditebus dalam sistem lama yang usang dengan tindakan kejam, ancaman,” ucap Ibrahim.





