Editor 25 Oktober 2020

Adian Husaini, salah seorang pendiri INSISTS menulis bahwa pemikiran sekularisasi (termasuk pluralisme) Cak Nur tidak berasal dari Gontor, akan itu bagian dari perjalanan intelektualnya dari Ciputat sampai ke Chicago. Di Chicago, tulis M. Wahyuni Nafis (2020) dalam pengantar ‘Ibnu Taimiyyah tentang kalam dan falsafah’, awalnya Cak Nur berfokus pada ilmu politik di bawah bimbingan Leonard Binder, akan tetapi selanjutnya ia pindah ke jurusan yang kata Cak Nur ‘akan relevan dengan program hidup saya’, yakni filsafat dan pemikiran Islam di bawah Fazlur Rahman.

Terkait Gus Hamid, ia merupakan anak dari salah satu trimurti Gontor, KH. Imam Zarkasyi, yang berpendidikan di Lahore Pakistan, Birmingham Inggris, serta Malaysia di kampus ISTAC. Tulisan-tulisan Gus Hamid banyak mengeritik secara reflektif perihal westernisasi dan liberalisasi dalam Islam. Misalnya, kita bisa lihat pada buku Misykat yang diterbitkan INSISTS-MIUMI (2012).

Selain itu, Gontor punya juga Habib Chirzin. Tidak hanya dikenal sebagai intelektual, ia merupakan aktivis dan kunci dari berbagai jejaring Islam internasional. Chirzin banyak menulis soal pemikiran Islam dan aktivisme dalam bentuk kemitraan dunia Islam. Ucapannya penuh motivasi, misalnya ketika dia berkata, “…semua bukan tentang menjadi apa, namun seberapa besar manfaat yang diterbarkan.”

Semua sumber daya yang ada perlu dimanfaatkan, kata beliau untuk mencapai yang namanya umat terbaik, khairu ummah. Ini semacam panggilan sejarah agar tiap muslim menjadi yang terbaik. Motivasi seperti ini juga saya dapatkan ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Darunnajah, yang ketika itu beliau memaparkan materinya bersama beberapa tokoh bangsa lainnya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*