Editor 27 Desember 2022

Selain masalah Palestina, tambah Bunyan Saptomo, tahun ini kita juga masih menyaksikan berlarutnya perang di Suriah, Yaman, Somalia dan Libya. Namun kita melihat tanda-tanda konflik di negara-negara tersebut mulai mereda. Hal ini mungkin karena negara-negara besar yang selama ini memasok senjata sudah mengalihkan perhatiannya untuk memasok senjata ke medan perang baru, yaitu di Ukraina.

“Kita juga melihat meskipun konflik di Afghanistan juga telah berakhir dengan hengkangnya Amerika dan sekutunya tahun lalu, namun situasi di negeri tersebut masih belum stabil. Tahun ini kita juga masih menyaksikan penindasan atas minoritas muslim, sebagaimana dialami muslim Rohingya di Myanmar, muslim Uygur di RRC dan muslim di sebagian wilayah di India.”

“Konflik dan penindasan tersebut telah menimbulkan bencana kemanusiaan, selain kematian juga pengungsian dan kelaparan. Tahun ini masih ada jutaan pengungsi muslim tersebar di seluruh dunia, diantaranya yang terbanyak adalah pengungsi Palestina (5.7 juta), pengungsi Suriah (6.8 juta) dan pengungsi Rohingya (1.2 juta). Tahun ini kita juga menyaksikan jutaan muslim terancam kelaparan di Yaman, Afghanistan dan Somalia. Pada puncak konflik di Yaman (Maret 2022) diberitakan sekitar 19 juta penduduk Yaman  terancam kelaparan,” jelas Bunyan.

Tambahnya lagi, di Afghanistan meskipun konflik sudah berakhir, namun pada puncak musim panas tahun ini (Agustus 2022) diberitakan juga sekitar 19 juta penduduk Afghanistan terancam kelaparan, sementara devisa negeri itu ditahan oleh Amerika.

Sedangkan di Somalia yang konflik internalnya masih berlanjut, pada bulan Juni 2022 diberitakan 7 juta penduduk juga terancam kelaparan. Meskipun akhir tahun ini kondisi kemanusiaan di beberapa negara muslim tersebut sudah membaik, namun kondisinya belum stabil dan dan masih memerlukan bantuan kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi.

Sehubungan dengan itu, MUI menghimbau organisasi kemanusiaan Indonesia untuk berpartisipasi dalam memberikan bantuan kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi di beberapa negara dimaksud.

Dubes Bunyan juga menyampaikan bahwa tahun ini kita juga masih menyaksikan tingginya Islamophobia di seluruh dunia. Banyak sekali kasus Islamophobia, mulai dari ucapan kebencian sampai tindakan diskriminasi, penganiayaan dan bahkan pembunuhan.

Menghadapi berlanjutnya masalah Islamophobia yang sudah dianggap melampaui batas ini, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) telah mengajukan usulan resolusi di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU-PBB) tentang perlunya menanggulangi Islamophobia.

Alhamdulillah, usulan OKI tersebut berhasil disepakati dengan dikeluarkan UN Resolution on International Day to Combat Islamophobia tanggal 15 Maret 2022. Dalam kaitan ini, MUI pada akhir Maret 2022 telah mengadakan seminar di Jakarta untuk mensosialisasikan Resolusi PBB tersebut.

Adapun keberhasilan OKI meng-goal-kan resolusi PBB untuk penanggulangan Islamophobia tersebut menurutnya merupakan capaian yang positif bagi dunia Islam. Hal positif lainnya, tahun ini  kita juga menyaksikan kemajuan ekonomi di sejumlah negara muslim paska pandemi Covid-19, termasuk Indonesia.

Bahkan Indonesia tahun ini telah berhasil menyelesaikan amanat sebagai ketua G20 dengan 3 program utama, yaitu: transisi energi berkelanjutan, transformasi digital, dan arsitektur kesehatan global. Akhir tahun ini kita juga menyaksikan Qatar berhasil menyelenggarakan Piala Dunia sepakbola dengan nuansa Islami. Capaian OKI, Indonesia dan Qatar ini merupakan dakwah Islam Wasathiyah yang perlu terus dikembangkan.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*