Oleh Desh Azalia
Penting buat kita semua mempelajari tentang komunikasi menggugah. Karena setiap manusia diciptakan di muka bumi adalah untuk berinteraksi dengan manusia lain. Sehingga mempelajari tentang komunikasi yang menggugah menjadi keniscayaan jika ingin sukses menjalankan misi hidup di dunia.
Komunikasi menggugah, sudah diajarkan sejak jaman para nabi. Bahkan Nabi Musa yang memiliki kelemahan cara berbicara, merasa harus dibantu oleh Sang Pencipta dengan menghadirkan doa “Rabbishrahli shadri, wayasirli amri, wahlul ‘uddatamilisaani, yafkhahul qauli” yang artinya “Ya Tuhan ku, lapangkan untukku dadaku, mudahkan urusanku, lepaskan simpul kekakuan lisanku, agar mereka mengerti ucapan ku”.
Doa nabi Musa ini, memberi isyarat tentang pentingnya komunikasi. Dengan komunikasi yang baik, sangat diharapkan bahwa orang-orang yang diajak berinteraksi menjadi tergugah untuk mengikuti apa yang diinginkan. Dalam hal ini Nabi Musa menginginkan agar masyarakat kembali ke jalan lurus menyembah Allah SWT, bukan menyembah raja Fir’aun yang hanya manusia biasa.
Kisah nabi Musa ini, mengingatkan kita semua bahwa penting memiliki komunikasi yang tepat di kaumnya saat itu. Begitu pula di era ‘now’, penting memperhatikan. Sangat banyak agenda dan program dari manusia yang menghajatkan agar pihak lain tergugah. Misalnya seorang salesman yang kerjanya harus menyakinkan orang lain untuk mengakui kehebatan produknya dan akhirnya membeli produk tersebut.
Tidak mudah memang, tapi bukan berarti tidak bisa dipelajari. Berikut beberapa cara, yang wajib diperhatikan agar komunikasi menggugah:
Personal
Orang yang berbicara, secara pribadi sering dipandang sebagai acuan tingkat kepercayaan orang lain. Seseorang yang berbicara, wajib menyandang integritas yang tinggi. Tanpa integritas maka trusty susah didapat dari pihak lain. Jika kita menilik tentang integritas, maka yang muncul adalah kejujuran dan komitmen.
Perbendaharaan kosakata interaksi manusia di muka bumi, ada 3 unsur yang menjadi patokan integritas. Yaitu hati, ucapan dan tindakan/perilaku. Ketiganya merupakan unsur yang wajib bersinergi dalam memunculkan integritas. Hilang salah satu diantaranya, akan membuat nilai integritas menjadi Nihil.
Sebagai contoh, seseorang yang berbicara dimana apa yang dihati diucapkan dengan lisan, namun tidak diikuti tindakan, hai ini bukan namanya Integritas akan tetapi kejujuran. Begitu pula, jika seseorang mengucapkan sesuatu dan kemudian diikuti dengan tindakan ataui perilaku, namun tidak disertai hati, maka ini namanya komitmen, bukan integritas. Sehingga yang namanya integritas adalah gabungan dari ketiganya (hati, ucapan, dan tindakan)
Content
Sukakah Anda memancing ikan? Umpan apa yang di suka ikan? Tentu cacing bukan? Dari dulu sampai sekarang dan bahkan yang akan datang, ikan sukanya makan cacing. Sementara kita manusia suka makan roti. Apakah bisa kita memancing ikan dengan umpan roti? Karena roti adalah kesukaan kita. Tentu saja cacing tidak makan umpan kita.
Dalam memahami konten (isi) dari komunikasi dengan orang lain, kita berupaya semaksimal mungkin untuk menyertakan ‘orang yang diajak bicara’ dalam bahasa kita, sehingga orang lain akan berfikir tentang materi komunikasi yang tercipta adalah ‘yes, ini gue banget’. Kalimat ‘yes, ini gue banget” adalah bahasa yang diluncurkan oleh orang lain lawan bicara kita, bukan bahasa kita selaku subyek berbicara.
Begitulah kiranya kita mencari konten-konten yang tepat dengan menghadirkan apa yang menjadi karakter atau kebutuhan orang lain, bukan tentang karakter atau kebutuhan kita. Meskipun untuk menciptakan komunikasi yang menggugah adalah tetap keinginan dan kebutuhan terbesar kita.
Delivery
Adalah sebuah cara dalam kita mentransfer kemauan kita. Cara-cara yang kita lakukan dalam berkomunikasi, tidak harus menggunakan bahasa verbal saja. Kita tidak harus menggunakan mulut saja dalam berkomunikasi. Bisa dengan gerak tangan, mimik muka, senyuman, dan cara-cara pergerakan lain dengan anggota badan.
Misalnya, kita ingin mengajak masyarakat berolahraga dengan melakukan senam bersama. Kita bisa menggunakan jenis senam yang disuka masyarakat. Kita sangat suka senam ‘maumere’ tapi warga sukanya senam nusantara, maka yang kita lakukan adalah kita senam nusantara. Bukan maumere.
Begitu pula jika masyarakat sangat suka kita berbicara dengan senyuman, maka berbicara dengan tersenyum adalah defautl. Kita harus menjadikan senyum sebagai standar komunikasi kita. Demikian halnya dengan peergerakan tangan, jika dengan gerakan tangan menjadikan orang lain lebih mudah mencerna apa yang kita maksud, maka lakukanlah.
Itulah beberapa contoh tentang cara-cara kita menghantarkan apa yang menjadi kemauan kita. Sebuah cara menyampaikan kehendak kita atau komunikasi kita agar orang lain menjadi cepat tergugah bergerak sebagaimana kita ingini.





