Celebesupdate.com, Internasional-Washington dan Tehran secara mengejutkan menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026), menghentikan sementara perang yang telah berlangsung selama 39 hari sejak 28 Februari lalu. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan ini diumumkan hanya 88 menit sebelum tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan besar-besaran ke fasilitas nuklir dan strategis Iran.
Berdasarkan kesepakatan ini, Iran berjanji membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital 20% minyak dunia yang sebelumnya diblokade—sementara AS menghentikan serangan udara dan rudalnya. Presiden Trump di Truth Social menyatakan bahwa AS akan “sekadar nongkrong” di sekitar selat untuk memastikan segalanya berjalan lancar, sementara Iran dan Oman akan bersama-sama mengelola lalu lintas kapal dan memungut biaya transit.
Iran mengajukan proposal 10 poin yang menurut Trump merupakan “basis yang bisa dikerjakan” untuk negosiasi. Poin-poin kunci Iran mencakup pencabutan sanksi ekonomi, pelepasan aset Iran yang dibekukan, pengakuan hak Iran untuk memperkaya uranium, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, kompensasi rekonstruksi pasca-perang, serta jaminan penghentian total agresi terhadap Iran, Irak, Lebanon, dan Yaman.
Namun di balik layar, AS sebelumnya telah mengirimkan proposal 15 poin yang isinya sangat berbeda: menuntut Iran menyingkirkan stok uranium yang diperkaya tinggi, menghentikan program pengayaan, membatasi program rudal balistik, serta menghentikan pendanaan untuk kelompok proksi regional seperti Hizbullah. Perbedaan mendasar ini menunjukkan bahwa kedua pihak masih sangat jauh dari kesepakatan permanen.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungan terhadap keputusan Trump, namun dengan tegas mengatakan bahwa gencatan senjata ini tidak mencakup perang melawan Hizbullah di Lebanon. “Jari kami tetap berada di pelatuk. Ini bukanlah akhir dari kampanye, tetapi sebuah langkah menuju pencapaian semua tujuan kami,” ujar Netanyahu. di media. Media Israel melaporkan bahwa Netanyahu sebenarnya “terkejut” dengan keputusan mendadak Trump karena Israel menginginkan perang terus berlanjut hingga Iran menyerah total.
Perbedaan Interpretasi Gencatan
Yang memperumit situasi adalah ketidakcocokan klaim para pihak. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, selaku mediator, menyatakan bahwa gencatan senjata berlaku di semua lokasi termasuk Lebanon. Namun AS dan Israel bersikeras bahwa Lebanon tidak termasuk. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menyatakan: “Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal terkait Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan yang tidak pernah sekalipun dikatakan AS sebagai bagian dari gencatan senjata, itu adalah pilihan mereka”.
Hanya sehari setelah kesepakatan ditandatangani, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh AS telah melanggar gencatan senjata dalam tiga poin: (1) serangan Israel ke Lebanon terus berlanjut, (2) drone AS memasuki wilayah udara Iran, dan (3) AS masih menyangkal hak Iran untuk memperkaya uranium. “Ketidakpercayaan mendalam yang kita miliki terhadap Amerika Serikat berakar dari pelanggaran berulang-ulang terhadap segala bentuk komitmen,” tulis Ghalibaf di X.
Di tengah ketegangan diplomatik ini, pasar global bereaksi positif terhadap pengumuman gencatan senjata. Harga minyak mentah turun sementara saham-saham global menguat. Charu Chanana, chief investment strategist di Saxo Bank, memperingatkan: “Ini hanya jeda. Ujian sesungguhnya adalah apakah serangan benar-benar berakhir, negosiasi berjalan, Hormuz tetap terbuka, dan Israel selaras dengan de-eskalasi”. Perusahaan pelayaran Maersk menyatakan gencatan ini membuka peluang transit namun belum memberikan kepastian maritim penuh.
Putaran negosiasi pertama antara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dan tim Iran dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan pada Jumat (10/4/2026). Mediator berharap gencatan dua pekan ini dapat diperpanjang menjadi kesepakatan permanen. Namun dengan perbedaan fundamental antara proposal 10 poin Iran dan 15 poin AS—serta posisi Israel yang terus ingin berperang di Lebanon—banyak analis meragukan bahwa dua pekan cukup untuk menjembatani jurang pemisah tersebut.
Gencatan senjata 2 pekan ini lebih tepat disebut sebagai “jeda untuk negosiasi” daripada perdamaian sejati. AS mendapatkan pembukaan Selat Hormuz yang menstabilkan harga minyak jelang pemilu paruh waktu, sementara Iran mendapatkan ruang napas dari pemboman dan pengakuan (meski parsial) atas hak-haknya. Namun dengan tuduhan pelanggaran yang sudah muncul di hari pertama, serta ketegangan di Lebanon yang terus berlangsung, gencatan ini berisiko runtuh sebelum negosiasi Islamabad benar-benar dimulai. Satu hal yang pasti: dunia masih belum aman dari ancaman perang skala penuh di Teluk Persia.(*)





