Bagi Meity, Bhinneka Tunggal Ika tetap harus dimaknai sebagai konsep berbeda-beda tapi satu, yaitu dalam konteks etnik, warna kulit, bahasa, budaya, agama dan kepercayaan. “Toleransi berdiri di atas perbedaan-perbedaan itu, termasuk pemikiran selama tidak bertentangan nilai etik. Saya memandang bahwa kekuatan Indonesia yang terletak pada empat pilar, sangat jelas menuntut adanya tanggugjawab etik dan moral dari setiap anak bangsa agar kehidupan bernegara tetap stabil, aman dan tenteram. Keberagaman yang bertanggungjawab termasuk sejalan dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa,” tambahnya.
Apa yang disampaikan politisi perempuan dari Sulsel itu dikuatkan oleh narasumber lainnya. Abdul Wahid yang dikenal sebagai pengajar dan pendakwah di Makassar membeberkan sejumlah poin, bagaimana membangun keberagaman bertanggungjawab. Diantara, menurutnya adalah meningkatkan rasa nasionalisme dan menghindari primordialisme berlebihan.





