Indonesia jelas merupakan negara ber-Ketuhanan. Artinya, sebagai negara demokrasi, segala aspek kehidupan di Indonesia kata Meity, sangat berbeda dengan konsep demokrasi di barat yang bebas dan terbuka. Kehidupan masyarakat, politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia mesti sejalan dengan norma dan moralitas agama yang dianut secara mayoritas penduduknya. Sebab itu, ibadah puasa adalah wujud konkret pengamalan sila pertama.
“Berpuasa bisa membentuk perilaku warga yang tertib, loyal, teratur dan disiplin. Lalu pada level pejabat, puasa dapat membentuk pribadi amanah, jujur, berintegritas dalam menjalankan tugas dan tanggungnjawabnya. Dalam konteks bernegara, inilah yang diinginkan dari sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa,” bebernya.
Moralitas agama, lanjut Meity, terutama nilai puasa dalam Islam juga sangat seiring dengan Sila ke-2, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Semua agama, khususnya Islam memiliki ajaran yang diantaranya menekankan pada kepedulian sosial. Agama yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Di bulan Ramadhan, katanya, nilai-nilai dapat dilakukan dalam bentuk tindakan kecil seperti berbagi takjil atau bersedekah. “Ini adalah bentuk kemanusiaan, yang adil dan beradab dalam tindakan sehari-hari,” tukasnya.





