Editor 27 Juli 2022

Ketujuh, alat evaluasi efektivitas program pemenangan pemilu  di tingkat Desa/Kelurahan.

Kedelapan, mengetahui tokoh agama, adat/suku, pemuda, jawara, perempuan, pengusaha, influencer, dan politik yang paling berpengaruh di tingkat Desa/Kelurahan.

Apakah metode ini bermanfaat dan layak untuk dikuasai serta diimplementasikan? Tiga puluh dua kali pelaksanaan training Monografi Politik sejak 2007 yang diikuti mayoritas politisi memperlihatkan sebagian besar menilai bermanfaat. Termasuk perhelatan terakhir yang digelar tanggal 27 – 28 November 2021 yang diikuti oleh empat puluh sembilan peserta. Di akhir training mereka disodorkan formula pertanyaan, “Bagaimana penilaian Anda terhadap kebermanfaatan materi training dalam persiapan menghadapi pemilu?” Hasilnya, 60% menilai Sangat bermanfaat, 36% Bermanfaat, dan hanya 4% yang menilai “Kurang bermanfaat” dan tak ada yang memilih jawaban “Sangat tidak bermanfaat.”

Akhirnya, mari bayangkan di kantor pusat partai terpampang layar monitor berukuran besar berisi peta Indonesia. Setiap provinsi berwarna khas milik partai pemenang di provinsi tersebut. Kita klik satu provinsi, seketika layar jumbo itu menampilkan peta provinsi dengan berisi kabupaten/kota di provinsi tersebut. Masih dengan warna warni khas partai pemenang di setiap kabupaten/kota. Kemudian diklik satu kabupaten, dan seketika pula layar bersalin gambar peta kabupaten itu yang terdiri dari kumpulan kecamatan dengan warna warni partai pemenang. Lantas diklik kecamatan tertentu, muncul peta kecamatan dengan himpunan desa/kelurahannya berikut warna warni partai pemenang.

Ibarat bermain puzzle, begitulah Monografi Politik. Bermula dari desa/kelurahan, akhirnya kita dapatkan peta politik se-Nusantara secara periodik.(*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*