Celebesupdate.com, Internasional-Rencana pemerintahan garis keras pimpinan Benyamin Netanyahu di Israel berencana membangun pusat konsentrasi warga Palestina di Gaza yang disebutnya sebagai kota kemanusiaan. Rencana gila Netanyahu tersebut disampaikan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, awal Juli 2025. Kota itu menurutnya akan didirikan di Gaza bagian selatan dan recana menampung kurang lebih 600 ribu warga Palestina. Setiap orang yang ditampung kata Katz, akan diperiksa secara ketat agar tidak terkait dengan gerakan perlawanan bersenjata, Hamas.
Menanggapi rencana ini, masyarakat di berbagai belahan dunia menyatakan penolakan keras. Dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Selasa (15/7/2025) politis Partai Keadilan Sejahtera, Hj Meity Rahmatia menyampaikan keprihatinan atas perkembangan kemanusiaan yang kian kritis itu di Gaza. “Tindakan itu mendekati pelanggaran HAM yang dialami sendiri orang Yahudi selama perang dunia ke 2. Mereka digiring dan dimasukkan ke dalam kamp-kamp konsentrasi oleh rezim Hitler,” jelasnya.
Meity juga mengingatkan masyarakat Indonesia, terus mengikuti perkembangan di Palestina agar tetap peduli. “Kita adalah bangsa yang menjujung tinggi kemerdekaan dan hak asasi manusia. Komitmen ini dituangkan dalam UUD 1945. Kita harus tetap mendukung Palestina, dan jangan kehilangan moment atas peristiwa yang terjadi disana,” terang Meity yang akhir-akhir ini banyak mengikuti isu HAM di Komisi Tiga Belas DPR RI.
Tantangan terhadap rencana Netanyahu saat ini juga datang dari dalam Israel sendiri. Sejumlah tokoh Israel dan kelompok oposisi pada pemerintahan Netanyahu menyebut rencana ini tak lebih dari apa yang dialami orang-orang Yahudi di masa Hitler. “Dengan berat hati saya katakan, ini semacam kamp konsentrasi,” ungkap mantan perdana menteri Israel, Ehud Olmert pada Minggu (13/7/2025). Ia menambahkan bahwa jika itu benar-benar dilakukan maka itu bentuk pembersihan etnis.
Hal serupa juga datang dari pimpinan oposisi di Israel, Yair Lapid. Politisi yang menjabat perdana menteri Israel pada tahun 2022 itu menyebut itu sebagai ide buruk. “Itu adalah ide buruk dari semua sisi, keamanan, politik, ekonomi dan logistik. Saya sebenarnya tidak ingin menyebut itu kamp. Tapi kalau warga Palestina dilarang keluar dari tempat itu, maka itu kamp konsentrasi,” terangnya (*)





