Editor 12 Mei 2026
Ilustrasi

Inilah paradoks yang terjadi pada masa sekarang yaitu kita hidup di era di mana informasi olahraga paling melimpah, namun lingkungan kerja membuat kita menjadi tidak aktif secara fisik. Mengejar target “10.000 langkah” atau “150 menit olahraga per minggu” memang sangat baik, namun hal itu belum cukup jika kita tidak mengubah cara kita berinteraksi dengan kursi kerja kita. Kesehatan sejati bukan lagi tentang seberapa keras kita berlatih di gym, melainkan tentang bagaimana kita memutus durasi diam di sela-sela kesibukan profesional.

Terdapat beberapa strategi solutif yang bisa diaplikasikan  dalam menghadapi paradoks ini adalah, 1) Exercise Snacking (Camilan Olahraga), konsep ini merujuk pada aktivitas fisik intensitas singkat (1–5 menit) yang dilakukan beberapa kali sepanjang hari. 2) Breaking the Bout (Interupsi Berkala), menghindari duduk statis lebih dari 30–60 menit tanpa jeda misalnya dengan menggunakan alarm setiap 45 menit untuk berdiri, melakukan peregangan dinamis, atau sekadar berjalan mengambil air minum. 3) Desk-Based Movement (OBSS Framework), menggunakan kerangka kerja seperti Office-Based Strengthening and Stretching (OBSS) untuk mengatasi kekakuan otot spesifik. Dengan mengaplikasikan beberapa strategi di atas diharapkan dapat memaksimalkan efek dari rutinitas olahraga dan meminimalisir efek dari aktivitas sedenter (sedentary activity).

Referensi:

American College of Sport Medicine (ACSM). (2013). ACSM’S Guidelines for Exercise Testing and Prescription NINTH EDITION.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*