Editor 22 Oktober 2020
Yanuardi Syukur

Sedang ramai orang bahas kata ‘revolusi akhlak’ yang akan dilakukan seorang tokoh agama sekembalinya ke Indonesia. Di sudut lain, ada yang melihat bahwa term tersebut berintensi pada sirkulasi rezim politik.

Revolusi akhlak punya pintu. Pintu pembukanya ada pada taubat. Maka, hal pertama yang harus dilakukan sebelum revolusi akhlak adalah taubat, sebuah kesadaran/keinsyafan atas berbagai lalai yang hendak diperbaiki secara cepat.

Revolusi akhlak dapat terjadi dalam berbagai kondisi. Peristiwa hebat yang berkenaan dengan kehidupan dan tujuan hidup acapkali menjadi pembuka revolusi akhlak secara pribadi. Banyak orang hijrah sebab kejadian tertentu yang berpengaruh dalam bagi diri mereka.

Kadang kita heran, kenapa bisa orang-orang yang dulunya jauh gelap kini menjadi terang? Kegelapan dalam pikiran dan tindakan dalam arti ‘senang dosa’ kini tiba-tiba terlihat berubah drastis dalam ‘senang pahala’; rajin ibadah, lebih agamais, dan satu hal lagi, tatapannya lebih ringan dan tawadhu’.

Saya suka mencermati perubahan perilaku orang-orang hijrah. Sebenarnya, dalam arti luas tiap kita setiap hari adalah pribadi hijrah ketika misalnya kita tersadar dari kesalahan dan kemudian memilih bertaubat. Taubat adalah pintu menuju hijrah, menuju revolusi akhlak.

Mereka yang hijrah dalam arti spesifik seperti hijrah dari kehidupan glamour ke religius terlihat betul perbedaannya. Saya lihat mereka seperti dilindungi oleh awan ketenangan, kedamaian, dan juga petunjuk baru, versi baru dan terbaik dari dirinya sendiri.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*