Editor 27 Januari 2026
Ilustrasi
Penulis : Abdul Chalid, Pengamat Politik, Dosen Ilmu Politik UTS Makassar

Dalam era digital saat ini, media sosial telah menjadi arena utama dalam memperjuangkan wacana politik. Salah satu program yang sedang menjadi sorotan adalah program makan bergizi gratis yang dicanangkan oleh pemerintah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, terutama bagi mereka yang kurang mampu, dengan menyediakan makanan bergizi secara gratis. Namun, pelaksanaan dan wacana yang berkembang di seputar program ini memunculkan berbagai pendapat dari berbagai pihak, termasuk pihak oposisi.

Pemerintah, sebagai aktor utama dalam inisiatif ini, berusaha untuk menegaskan pentingnya kebijakan sosial tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, pihak oposisi cenderung mengkritik program ini, baik dari segi keberlanjutannya, efisiensi pelaksanaan, maupun dampaknya terhadap perekonomian negara. Dalam banyak kasus, perbedaan pandangan ini tidak hanya dibahas di ruang-ruang politik formal, tetapi juga tersebar luas di media sosial, yang memunculkan perdebatan publik yang lebih intens.

Media sosial, sebagai ruang publik yang terbuka, memungkinkan kedua belah pihak untuk menyampaikan argumen dan retorika politik mereka. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis bagaimana pemerintah dan oposisi membentuk wacana mereka mengenai program ini dan bagaimana media sosial menjadi medan pertempuran ideologis yang tidak hanya mencakup politik, tetapi juga mencakup nilai-nilai sosial dan ekonomi masyarakat.

Setiap platform media sosial memiliki karakteristik unik yang membentuk bagaimana wacana dibangun dan disebarluaskan. Secara rinci dapat diurai sebagai berikut.

1. X (sebelumnya Twitter): Arena Kritik, Verifikasi, dan Tagar Koreksi
Platform X berfungsi sebagai ruang publik utama untuk kritik dan verifikasi. Masyarakat menggunakan X untuk melakukan “cek silang” antara klaim keberhasilan yang disampaikan pemerintah dengan realitas di lapangan. Tuntutan publik di platform ini sangat rasional, mereka meminta data dan angka yang bisa diverifikasi (seperti hasil uji laboratorium terhadap makanan), bukan sekadar slogan seremonial . X juga menjadi tempat lahirnya berbagai tagar korektif yang menyuarakan ketidakpuasan dan menyoroti insiden di lapangan .

2. Instagram: Dari Seremonial ke Empati dan Aksi
Pada fase awal, Instagram dibanjiri konten seremonial seperti peresmian, kunjungan, dan testimoni yang membangun harapan. Namun, ketika berbagai insiden seperti keracunan makanan mulai muncul, narasi bergeser. Konten yang viral kemudian didominasi oleh reel edukasi, keluhan orang tua, dan cerita dari komunitas sekolah . Platform ini memperlihatkan kebutuhan publik akan komunikasi yang lebih empatik dan actionable, seperti penjelasan langkah perbaikan yang konkret dan kapan perubahan akan terlihat. Analisis sentimen terhadap ribuan komentar di Instagram bahkan mengungkapkan dominasi sentimen negatif yang sangat tinggi, mencapai 98,1% , dengan kekhawatiran utama pada pelaksanaan program dan transparansi anggaran .

3. TikTok dan Facebook: Amplifikasi dan Segmentasi Audiens
Meskipun riset yang ada tidak sedetail X dan Instagram, platform seperti TikTok dan Facebook Page turut menjadi arena amplifikasi wacana . Konten-konten pendek di TikTok sering digunakan untuk menyoroti insiden-insiden lucu atau memprihatinkan di lapangan, sementara Facebook menjadi ruang diskusi yang lebih panjang di kelompok-kelompok masyarakat berbasis komunitas, seperti orang tua murid atau guru.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*