Yang lebih menarik, syair cinta ternyata memiliki efek luar biasa dalam wacana peperangan. Semangat berperang, ketangguhan menghadapi musuh, hingga kemampuan menjadi “pengobat rasa sakit akibat luka perang” justru lahir dari syair-syair percintaan.
Kisah Laila-Majnun adalah bukti abadi bagaimana cinta mampu menggetarkan peradaban. Sementara di sisi lain, perang antarsuku hingga perang antarsaudara menjadi tradisi yang lumrah yang dipandang sebagai cara instan meraih pengakuan, kekayaan, dan kekuasaan.
Ketika Cinta Berubah Menjadi Kekerasan
Jika dulu batas antara cinta dan perang bersifat metaforis, hari ini batas itu menjadi nyata dalam realitas sosial yang mengkhawatirkan.
Dr. Aguswan Khotibul Umam, dosen UIN Jurai Siwo Lampung, mengungkap data mengejutkan: Kementerian Pendidikan Tinggi mencatat 310 laporan kekerasan di perguruan tinggi periode 2021-2024, dengan 49,7 persen di antaranya adalah kekerasan seksual.
Yang lebih memprihatinkan, sebuah kasus di UIN Sultan Syarif Kasim Riau menjadi alarm serius: seorang mahasiswa menganiaya mahasiswi dengan kapak karena cintanya ditolak.





