Dalam psikologi, fenomena ini dijelaskan oleh frustration-aggression hypothesis, yaitu agresi muncul ketika seseorang gagal mencapai keinginan yang dianggap sangat penting secara emosional. Ini adalah “perang” dalam skala mikro yang terjadi di ruang-ruang privat.
Cinta di Tengah Perang yang Sesungguhnya
Di ujung lain, cinta juga tumbuh di tengah pusaran perang. Kisah Mahmoud Darwish, penyair Palestina, dengan seorang gadis Israel bernama Rita menjadi bukti pedih bahwa cinta dan perang hanya terpisah satu fonem.
Hubungan mereka berjalan romantis hingga Darwish menemukan kenyataan pahit: Rita adalah seorang mata-mata yang bekerja untuk pemerintah Israel. Dari patah hati inilah lahir syair-syair abadi Darwish: “If you asked me how many times you came in my mind… I would say once because you came and never left.”
Cinta yang lahir di tengah perang justru melahirkan karya yang melampaui batas negara dan agama.
Iran, AS, dan Israel: Ketika Fonem Berubah Menjadi Rudal





