Editor 20 Desember 2020

Kang Dudi ketika menanggapi pemaparan saya mengangkat tentang dynamic governance dari kasus Singapura yang berbasis thinking ahead, thinking again, dan thinking across.

Kapabilitas berpikir tersebut yang melahirkan adaptive policy dan menggerakan dynamic governance. Modal utama kemampuan berpikir tersebut adalah adanya able people dan agile processes (silakan dilihat gambar). Nah, manajemen talenta berkontribusi untuk membangun able people.

Pertanyaannya, bagaimana menjadikan keberagamaan dan keislaman sebagai modal untuk sukses membangun talenta dan negara? Kami sepakat diperlukan internalisasi nilai-nilai keislaman secara utuh. Sejatinya misi berislam adalah sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Talenta kita maknai sebagai orang-orang yang paling memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*