Editor 3 Maret 2026

Maret 2026 menjadi momentum kritis bagi ekonomi Amerika Serikat. Di satu sisi, data awal tahun ini menunjukkan optimism yang sempat membuncah—keyakinan CEO meroket dalam survei terbaru Conference Board, dan Bank Dunia bahkan menyebut prospek ekonomi AS sebagai “buoyant” atau cerah . Namun di sisi

Penulis : Abdul Chalid, Pengamat Politik, Dosen Ilmu Politik UTS Makassar

lain, serangan militer AS-Israel ke Iran yang memasuki hari kelima telah membuka kotak Pandora baru: lonjakan harga minyak, ketidakpastian rantai pasok global, dan spektrum mengerikan yang selama ini hanya menjadi catatan kaki dalam buku teks ekonomi—stagflasi.

Joseph Lupton, ekonom JPMorgan, menangkap paradoks ini dengan tepat dalam catatannya akhir pekan lalu: “Pilar utama outlook 2026 kami adalah ‘fading of caution‘—kelesuan dalam perekrutan dan belanja modal mulai memudar, perusahaan mulai mengerahkan laba dan kapital mereka. Namun pemulihan yang baru lahir ini kini berada dalam risiko. Perang militer, yang berlapis dengan ‘perang dagang’ AS yang sedang berlangsung, dapat memicu kembali kekhawatiran atas stabilitas global” .

Artikel ini mengupas kontradiksi tersebut: bagaimana perang Iran menguji ketahanan ekonomi AS, memaksa Federal Reserve berada di persimpangan kebijakan, dan mengancam mengulang mimpi buruk 1970-an.

 Selat Hormuz: Jantung Minyak Dunia yang Terancam

Ancaman terbesar dan paling langsung dari eskalasi ini datang dari Selat Hormuz, jalur air strategis yang dilalui lebih dari 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari—sekitar 20-25% pasokan minyak dunia . Brigadir Jenderal Ebrahim Jabbari, wakil komandan Pasukan Pengawal Revolusi Iran, membuat pernyataan yang menggetarkan pasar: “Kami akan membakar kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz” dan “tidak akan membiarkan setetes minyak pun keluar dari wilayah ini” .

Fitch Ratings dalam analisisnya, Selasa (3/3), mengasumsikan bahwa “Selat Hormuz akan secara efektif tertutup selama konflik berlangsung, baik akibat hambatan fisik langsung, kesulitan kapal mendapatkan asuransi, maupun faktor risiko keamanan lainnya” . Dampaknya langsung terasa: harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 6,3% ke level tertinggi dalam sesi perdagangan Senin .

Jeon Gyu-yeon, peneliti di Hana Securities, memproyeksikan dua skenario. Jika konflik AS-Iran selesasai dalam 1-2 bulan, harga WTI dapat naik ke $90 per barel. Namun dalam skenario terburuk—blokade total dan konflik meluas ke negara tetangga—WTI bisa melonjak hingga $120 per barel .

Debat Stagflasi: Antara “Buy the Dip” dan “Angin Stagflasi”

Di Wall Street, terjadi perpecahan tajam. Di satu kubu, JPMorgan justru mendorong kliennya untuk “buy the dip,” menyebut eskalasi ini sebagai gangguan sementara . Gary Black, managing partner The Future Fund, optimistis: “Kami melihat volatilitas ini sebagai sesuatu yang sementara; begitu konflik mereda, harga minyak akan turun kembali.” Ia memproyeksikan pertumbuhan laba S&P 500 sebesar 12% year-over-year, mencapai $310 pada akhir 2026 .

Namun di kubu sebaliknya, Mohamed El-Erian, penasihat ekonomi utama Allianz, memperingatkan skenario yang jauh lebih kelam. Berbicara kepada CNBC, El-Erian mengatakan “angin stagflasi mulai berhembus melintasi ekonomi AS.” Ia menekankan bahwa dampak global sepenuhnya tergantung pada “durasi dan perluasan perang. Semakin lama berlangsung, semakin meluas, maka semakin stagflatif dampaknya bagi ekonomi global” .

Apa itu stagflasi? Istilah yang populer di era 1970-an ini menggambarkan kombinasi beracun: pertumbuhan ekonomi stagnan atau negatif, inflasi tinggi, dan pengangguran meningkat—kondisi yang seharusnya tidak terjadi bersama dalam teori ekonomi konvensional .

Pelajaran 1973: Mimpi Buruk yang Kembali Menghantui

Sejarah mencatat bagaimana krisis minyak dapat menghancurkan ekonomi. Krisis minyak 1973 dipicu Perang Yom Kippur—saat negara-negara Arab di OAPEC mengembargo ekspor minyak ke negara pendukung Israel, termasuk AS . Dampaknya mengerikan: harga minyak melonjak dari $2,95 menjadi $11,65 per barel dalam hitungan bulan, dan harga minyak dunia meningkat 300% pada 1974 .

AS mengalami stagflasi parah. Pada 1975, inflasi AS mencapai 12%, dan negara-negara industri seperti Inggris serta Jepang mencatat pertumbuhan negatif . Krisis kedua pada 1979, dipicu penghentian ekspor minyak Iran, membawa inflasi AS ke level 14,8%, memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga federal funds rate hingga 22,36% .

Yang perlu dicermati: sebelum krisis 1973, AS sempat melonggarkan kuota impor minyak pada 1972 karena beberapa negara bagian merasa lebih mudah dan murah menggunakan minyak impor daripada produksi dalam negeri—mirip dengan situasi AS saat ini yang masih bergantung pada minyak impor meski produksi domestik meningkat .

Kenaikan harga minyak tidak berhenti di pompa bensin. James Knightly, kepala ekonom internasional ING, memperkirakan jika harga minyak mentah mencapai $100 per barel, harga bensin di AS bisa melonjak dari $3 menjadi sekitar $4,50 per galon—kenaikan 50%—yang akan menaikkan inflasi CPI AS sebesar 1,5 poin persentase .

Dampaknya merambat ke seluruh sendi ekonomi. Biaya logistik membengkak, harga bahan makanan naik, tiket pesawat melambung. Ketika konsumen harus membayar lebih untuk energi dan pangan, daya beli untuk barang lain tergerus—pertumbuhan ekonomi melambat. Inilah mekanisme stagflasi bekerja.

Pertanyaan kunci yang kini menghantui para pembuat kebijakan: apakah perang ini akan memaksa The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat, atau justru memicu resesi baru?

Janet Yellen, mantan Ketua The Fed, memberikan peringatan tegas. Dalam konferensi pengiriman TPM26 milik S&P Global, Yellen mengatakan bahwa risiko kenaikan harga energi akibat konflik Iran akan “secara signifikan memperburuk tekanan inflasi AS, memaksa The Fed menjadi lebih konservatif dan ragu-ragu dalam keputusan penurunan suku bunga” . Ia menekankan bahwa inflasi AS saat ini sudah berada di atas target 2%, kebijakan tarif Trump telah mendorong inflasi, dan kenaikan harga minyak akibat konflik Iran menjadi “gangguan inti inflasi baru yang tidak terkendali” .

Pasar mulai merespon. Berdasarkan perhitungan pasar fed funds futures, pemangkasan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada Juli kini mundur menjadi September . Namun yang lebih menarik: meskipun ekspektasi pemangkasan mundur, pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan 25 basis poin pada akhir tahun . Ini mencerminkan keyakinan bahwa The Fed pada akhirnya akan lebih memilih melawan resesi daripada melawan inflasi jika perang berkepanjangan.

Di Eropa, Philip Lane, Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB), mengatakan analisis sensitivitas ECB menunjukkan bahwa perang berkepanjangan di Timur Tengah akan menyebabkan “lonjakan substansial” inflasi akibat energi dan “penurunan tajam” output ekonomi .

Faktor Penahan: Apakah AS Lebih Siap dari 1973?

Namun tidak semua analis sepakat dengan skenario stagflasi. Argumen utama dari kubu optimis adalah perubahan fundamental struktur energi AS. Jamie Dimon, CEO JPMorgan, menyatakan bahwa “jika konflik tidak berlangsung lama, dampaknya terhadap inflasi akan terbatas” . Ia mengakui risiko, tetapi menekankan pentingnya durasi.

David Saif, kepala ekonom untuk pasar maju di Nomura, menambahkan: “Mengingat tingkat produksi minyak AS yang tinggi saat ini, dampak ekonomi yang lebih luas dari fluktuasi harga minyak yang tajam relatif kecil” . AS kini menjadi produsen minyak terbesar dunia, berbeda dengan era 1970-an ketika sangat tergantung impor.

Analis Citi juga menilai bahwa “risiko kenaikan inflasi akan diimbangi oleh kondisi keuangan yang kurang mendukung,” sehingga The Fed kemungkinan tetap fokus pada data domestik seperti laporan tenaga kerja yang akan dirilis Jumat ini .

Yang paling mencemaskan adalah ketidakpastian. Christopher Hodge, kepala ekonom AS di Natixis CIB Americas, memetakan dua skenario ekstrem. Skenario optimis: rezim Iran yang tersisa memiliki kapasitas militer terbatas, efek harga minyak cepat mereda, dampak ekonomi minimal. Skenario pesimis: konflik meluas secara regional, merembet ke jalur perdagangan global dan rantai pasok di luar energi—minyak bertahan di atas $120, jalur pelayaran terganggu, biaya asuransi meroket, jaringan produksi global lumpuh. Dalam skenario ini, pertumbuhan AS bisa negatif, pengangguran naik, dan The Fed terpaksa memangkas suku bunga cepat untuk mencegah resesi .

Tim Duy, kepala ekonom AS di SGH Macro Advisors, menyebut konflik ini sebagai “kartu liar. Pasar mungkin cepat kehilangan minat jika situasi bergeser dari konflik regional menjadi konflik internal” . Namun Sassan Ghahramani, Presiden dan CEO SGH yang berasal dari Tehran, mengingatkan kemungkinan “taktik scorched-earth” dari Tehran—eskalasi ke pusat-pusat sipil untuk menghantam ekonomi global dan menekan agar perang dihentikan .

Ekonomi AS berada di persimpangan. Optimisme awal 2026—tentang pemulihan yang mandiri, tentang perusahaan yang mulai berani merekrut dan berinvestasi—kini diuji oleh realitas geopolitik yang brutal.

Yang menentukan bukan hanya berapa lama perang berlangsung, tetapi seberapa dalam luka yang ditimbulkan pada infrastruktur energi global. Jika Selat Hormuz benar-benar tertutup lama, jika fasilitas LNG Qatar terus terganggu (seperti yang telah terjadi akibat serangan drone Iran), jika Irak—produsen terbesar kedua OPEC—terseret ke dalam konflik melalui kekuatan proksi , maka stagflasi bukan lagi skenario ekstrem, melainkan baseline.

Mohamed El-Erian mungkin meringkasnya paling baik: “Semakin lama berlangsung, semakin meluas, maka semakin stagflatif dampaknya bagi ekonomi global” . Dan ketika The Fed kehilangan fleksibilitas kebijakan—karena tidak bisa memangkas suku bunga tanpa memicu inflasi, dan tidak bisa menaikkan tanpa memicu resesi—maka ekonomi akan memasuki wilayah yang belum pernah dijelajahi sejak era 1970-an.

Untuk saat ini, pasar masih bertaruh pada skenario jangka pendek. Namun setiap hari perang berlanjut, taruhan itu menjadi semakin mahal.

*Disadur dari berbagai sumber

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*