Editor 14 Oktober 2022
  • Jurnal Kajian Ekonomi Regional
Penulis Desi Ariyanti*

Abstract

The dynamics of APBN performance is quite dynamic. Lots of shocks that have the potential to weaken the economy continue to occur. The pandemic period that has passed has become the right momentum to orchestrate policies that can maintain and guard positive economic growth.

In September 2022 when the fuel price adjustment policy was issued, the government immediately issued another policy that touched the side of the APBN. Among these are mandatory regional expenditures that must be allocated at 2% of general transfer funds, direct cash assistance from transferring subsidies, and wage assistance for low-income workers.

The press conference on the State Budget expressed the government’s optimism for the current year’s economic growth. The performance of the State Budget, which is indicated by revenues and expenditures, has been realized quite well according to the target in the third quarter. If the central government is optimistic about national economic growth, of course the regional economic growth in the scope of Ajatappareng will be the same.

Keywords: Economic Recovery, Ajatappareng, fuel prices, APBN

Abstrak

Dinamika kinerja APBN cukup dinamis. Banyak guncangan yang berpotensi melemahkan perekonomian terus menerus terjadi. Masa pandemi yang telah berlalu, menjadi momentum yang tepat dalam mengorkestrasi kebijakan-kebijakan yang dapat mempertahankan dan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif.

Bulan September 2022 ketika kebijakan penyesuaian harga BBM dikeluarkan, pemerintah pun segera mengeluarkan kebijakan lain yang menyentuh sisi APBN. Diantaranya belanja wajib daerah yang harus dialokasikan sebesar 2% dari dana transfer umum, bantuan langsung tunai dari pengalihan subsidi, dan bantuan upah bagi para pekerja yang berpenghasilan rendah.

Konferensi pers tentang APBN menyatakan optimisme pemerintah akan pertumbuhan ekonomi tahun berjalan. Kinerja APBN yang ditunjukkan dengan penerimaan dan belanja, telah terealisasi dengan cukup baik sesuai target di triwulan ketiga ini. Jika pemerintah pusat saja optimis akan pertumbuhan ekonomi nasional, tentu pertumbuhan ekonomi regional lingkup Ajatappareng pun demikian.

Kata kunci : Pemulihan Ekonomi, Ajatappareng, harga BBM, APBN.

  1. Pendahuluan

Seperti kita ketahui, bahwa pandemi baru saja berakhir.  Wabah penyakit yang menimpa bangsa ini, sempat mengguncangkan ekonomi dan kinerja APBN. Tahun 2019, dimana virus Covid-19 telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian masyarakat secara keseluruhan mengharuskan kinerja APBN lebih keras bekerja menjaga stabilitas ekonomi.

Hari ini, pandemi telah berakhir. Kinerja APBN mulai dievaluasi resiliensinya. Beberapa waktu lalu melalui APBN KITA Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah melakukan konferensi pers guna merilis kinerja APBN dalam pemulihan ekonomi nasional. Menteri Keuangan menyampaikan data-data makro pertumbuhan ekonomi dan sisi kebijakan nasional yang diambil dalam menjaga stabilitas ekonomi, moneter, dan mengendalikan laju inflasi.

Pemulihan ekonomi berbagai negara di dunia masih membutuhkan perhatian serius. Pandemi yang sudah berlalu, menjadi momentum baru bagi pemerintah mengeluarkan berbagai regulasi/kebijakan dalam mengatur sektor keuangan dalam rangka pemulihan ekonomi. Negara-negara yang tergabung dalam G20, masih belum sepenuhnya ‘mentas’ dari krisis akibat pandemi.

Secara nasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh positif. Akselerasi kinerja APBN cukup resilient dari potensi-potensi pelemahan ekonomi. Bulan September 2022, APBN kembali diuji dengan dikeluarkannya kebijakan penyesuaian harga BBM. Guncangan akan kinerja APBN menjadi dinamika tersendiri yang harus diperhatikan jika ekonomi berharap stabil.

Kenaikan harga BBM per 03 September 2022 lalu diprediksi banyak kalangan akan memicu inflasi dan berdampak pelemahan ekonomi. Munculnya banyak protes penolakan kenaikan BBM juga banyak digaungkan masyarakat, baik melalui tulisan di media maupun turun kejalan-jalan meneriakkan tuntutan penolakan kenaikan BBM. Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah. KPPN sebagai perwakilan Menteri Keuangan di daerah bahkan mulai menginventarisir aktifitas penolakan harga BBM oleh masyarakat dan sekaligus mencermati gejolak harga-harga kebutuhan popok yang mulai merayap menyesuaikan dengan kenaikan BBM.

Keresahan masyarakat pasca penyesuaian harga BBM juga sempat disuarakan oleh pengamat ekonomi dari Universitas di Sulawesi Selatan. Efek eksponensial yang ditimbulkan dapat menyasar pada sektor-sektor vital dimasyarakat yakni industri, perdagangan dan perikanan, seperti nelayan dan pengelola tambak. Dampak tersebut dapat mengganggu operasional kegiatan usaha, menekan pertumbuhannya bahkan dapat pula menghentikan jalannya usaha. Hal yang sangat diantisipasi oleh pelaku usaha.

Demikian pula dengan laju inflasi yang akan bergerak seiring dengan kenaikan harga BBM. Ekonom dari Bank Indonesia menyampaikan faktor-faktor yang menyebabkan melonjaknya inflasi. Namun demikian, dipaparkan pula bahwa inflasi tidak selamanya buruk. Inflasi yang terkendali, justru dapat memicu pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Senada dengan itu, data-data statistik pun disampaiak oleh statistika BPS Sulawesi Selatan, bahwa kenaikan harga BBM telang beberapa kali terjadi dalam kurun 10 tahun terakhir, dan pemerintah dengan stimulus fiskal nya melalui APBN, dapat menjaga stabilitas ekonomi dan tumbuh positif diwaktu-waktu tersebut.

Tulisan ini mengupas tentang “Optimisme Pemulihan Ekonomi Ajatappareng Pasca Penyesuaian Harga BBM Didukung Kinerja APBN yang Resilient” berdasarkan analisis lapangan sekaligus literatur tambahan dari berbagai narasumber.

Metode Penelitian

Tulisan ini ditulis dalam bentuk narasi deskriptif dengan metode kualitatif, yang membutuhkan beberapa narasumber guna memperdalam pokok bahasan dan kemudian dapat dianalisis sesuai fakta dan data lapangan. Selain data-data lapangan melalui wawancara dan pengamatan langsung masyarakat, juga dilakukan dengan menelaah beberapa literatur guna menambah wawasan keilmuan dan mempertajam analisa.

Pembahasan

3.1 Optimisme Pemerintah terhadap Ekonomi Nasional

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*