Celebesupdate.com, Internasional-Delegasi dari Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia kembali berkumpul di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab untuk melanjutkan pembicaraan damai terkait invasi Rusia ke Ukraina menjelang ulang tahun ke‑4 konflik itu.
Gedung Putih pada Hari Selasa mengumumkan, Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, menghadiri negosiasi trilateral dengan Rusia dan Ukraina di ibu kota Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi.
—negosiasi ini bagian dari upaya menghentikan pertumpahan darah meskipun diplomasi masih penuh tantangan.Pembicaraan ini adalah putaran kedua sejak perundingan dimulai pada akhir Januari 2026 dan didukung secara intens oleh Amerika Serikat sebagai mediator. Fokusnya adalah menemukan kerangka kesepakatan yang bisa mengakhiri perang yang sudah berjalan hampir empat tahun, meskipun tantangan tetap besar dan perbedaan posisi sangat tajam di banyak isu kunci.
Isu utama yang dibahas:
Satu tema dominan adalah parameter untuk mengakhiri konflik dan mencapai perdamaian yang berkelanjutan. Ketiga pihak duduk dalam sesi bersama dan sesi bilateral untuk membahas berbagai aspek ini, termasuk kondisi apa yang harus dipenuhi agar gencatan senjata dan perjanjian damai bisa dipastikan terlaksana.
Pertempuran teritorial tetap jadi pemecah utama. Rusia secara konsisten menuntut Ukraina menarik pasukannya dari wilayah yang kini dikuasainya di wilayah timur (termasuk di Donetsk dan Donbas) dan mengakui kontrol Rusia atas wilayah yang didudukinya sejak 2022 sebagai bagian dari syarat perdamaian. Ukraina menolak penarikan sepihak dan justru menyerukan pembekuan konflik berdasarkan garis depan saat ini serta menolak konsesi tanah besar-besaran demi keamanan jangka panjangnya.
Poin strategis lain yang dibahas mencakup jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina setelah perang berakhir, salah satu hal yang ditekankan Kyiv sebagai prasyarat sebelum mereka bersedia menyetujui komitmen genap damai formal. Ukraina ingin dukungan keamanan dari AS dan sekutunya agar tidak kembali diserang di masa depan.
Ada juga diskusi soal mekanisme konkret untuk gencatan senjata dan pemantauan di lapangan, termasuk kemungkinan pembentukan zona penyangga, serta peran pihak ketiga atau internasional sebagai pengawas selama fase transisi menuju perdamaian total.
Isu penting lainnya yang muncul dalam pembicaraan sebelumnya dan dirujuk lagi dalam putaran ini adalah status fasilitas strategis seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia, kendali atas infrastruktur penting itu serta bagaimana pembagian manfaat dan pengawasan internasionalnya sekali perang berakhir.
Walaupun ada gambaran “konstruktif” di beberapa sesi awal perundingan dan pernyataan positif dari pihak AS bahwa mereka ingin memajukan dialog ini, belum ada kesepakatan final, dan beberapa masalah tetap berada pada titik deadlock, terutama soal garis demarkasi wilayah dan jaminan keamanan yang dapat diterima semua pihak.
Secara keseluruhan, pembicaraan mencakup gagasan‑gagasan seperti gencatan senjata, kerangka perdamaian yang mencakup aspek militer dan ekonomi, jaminan keamanan, dan mekanisme pemantauan, tetapi perbedaan dasar soal wilayah dan persyaratan keamanan masih menjadi penghambat utama bagi tercapainya kesepakatan akhir





