Gen X rentang usia (45-59) tahun mereka cenderung memandang bahwa hirarki sosial sangat penting, bisa dikatakan mereka sangat strukturalis memandang segala sesuatunya secara vertikal, masa depan mereka berada didalam struktur. Sukses bagi gen X adalah ketika mampu naik tangga secara perlahan dan berada dipuncak hirararki, mereka memimpikan bekerja di lembaga pemerintah, atau institusi bisnis yang mapan, pada umumnya ijasah sangat penting bagi mereka dan relasi dengan patron harus dijaga dengan baik. Tidak heran muncul teori Korea yang dipromosikan politisi Bambang Pacul yakni bagaimana cara mencari galah agar melenting, hal itu sangat khas Generasi X.
Sementara itu Gen Milenial yang berada dalam rentan usia (25-44) tahun kerap dihubungkan dengan teknologi, khususnya teknologi informasi (internet), karena itu Generasi milenial juga dikenal dengan sebutan digital native, sedari kecil mereka tumbuh dengan teknologi dan internet. generasi ini tidak lagi memandang hirarki sosial sepenting generasi X. Mereka cenderung tidak lagi memandang perlunya memanjat status sosial seperti generasi X, tapi Quasi-Meritrokratik, alih-alih mengandalkan ijasah mereka justru focus pada keahlian yang mereka punya, kaum milenial adalah pencipta isu di media sosial dan wirausahawan paruh waktu menjadi ciri pekerjaan mereka.
Generasi Z (15-24) bukan hanya telah mengenal internet sedari kecil, generasi inilah memprakarsai hidup bersama internet dan bahkan AI yang saat ini menjadi sangat massif. Karena itu mereka ini adalah generasi yang menggunakan teknologi digital, tak seperti dua generasi sebelumnya Gen Z tidak lagi memandang hirarki social secara vertikal, tapi horizontal dalam bentuk Kolaborasi, koleb menjadi penanda mereka, dan media sosial tidak hanya menjadi ajang eksistensi tapi sudah menjadi sumber kemakmuran mereka, maka berwirausaha penuh waktu menjadi jalan ninja mereka. Generasi ini adalah pencipta nilai-nilai baru di dalam masyarakat.
Disrupsi Teknologi dan Generasi Indonesia Emas





