COVID-19, walau pun hanya aktif beberapa hari saja dalam tubuh kita, sangat berpotensi merusak sistem kendali bradykinin itu. Jadi bisa saja terjadi, seseorang yang di-test swab positif, lalu sepekan kemudian negatif, tapi sistem kendali bradykinin-nya sudah dirusak oleh COVID-19. Kalau kerusakan sistem kendali ini tidak dipulihkan, bisa se-waktu-waktu menimbulkan badai, yang menghantam organ tubuh yg paling lemah. Di situlah fatal-nya, sehingga COVID-19 sendiri memang tidak “membunuh” secara langsung, tapi “meminjam tangan” bradykinin untuk merusak organ tubuh vital yang terlemah.
Jadi, bila seseorang di-test swab positif kemudian di-isolasi, masalah utamanya bukan supaya tidak terjadi penularan pada orang lain, tapi lebih supaya yang bersangkutan bisa istirahat total untuk memulihkan sistem kendali bradykinin yang mungkin sudah dirusak oleh COVID-19, dan terjaga dari serangan-serangan lain. S erangan virus lain, bakteria, dan kegagalan organ tubuh akibat bradykinin storm. Kemudian, setelah swab-nya pun negatif, harus di-general check up, apakah organ-organ vital tubuhnya masih OK.





