Editor 17 April 2023

Saking pelitnya, tetangganya saja yang dikenal pelit sering membicarakan jiwa pelitnya. Setiap diminta menyumbang oleh sahabatnya, selalu dia bertanya untuk apa sumbangan itu diadakan, dan hasil analisanya selalu berujung pada tidak tepat untuk menyumbang kepada yang lain.

Para pembaca, dari ilustrasi di atas saya ingin bertanya, sekiranya anda harus memilih berkawan salah satu dari dua orang di atas, anda pilih yang mana? Memilih yang pemurah meskipun pemarah,  atau yang periang tapi pelit?

Kalau anda tanya balik saya, saya memilih yang berwatak pemurah meskipun pemarah. Saya mencermati bahwa kedua sikap ini mengandalkan rasa, bukan rasio. Jadi cara untuk menghadapinya adalah memaksimalkan rasio kehidupannya. Caranya, setiap dia marah saya buatkan lubang paku pada hamparan papan. Sebanyak dia marah, sebanyak itu lubang yang nantinya saya perlihatkan pada waktunya, pada saat melihat gejala rasionya mulai bekerja. Saat itulah saya perlihatkan lubang-lubang kecil yang tergali sebagai akumulasi dari kemarahannya yang menimbulkan bekas yang susah tertutupi kembali. Begitulah analogi tentang luka yang ditimbulkan buat dirinya dan orang lain saat marah.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*