Setelah menyimak ragam masukan itu, saya semakin tersadar bahwa proses mengilmui sesuatu bisa dengan melakoninya, misalnya menjadi tukang, atau belajar secara formal, misalnya mempelajarinya secara serius di bangku kuliah. Kedua cara ini harus diposisikan pada level yang sama, kaum profesional.
Itulah realitas di negara maju, tukang kolam, tukang pipa, atau tukang kebun, dihargai pendapatannya sama bahkan lebih tinggi dari pendapatan dosen di universitas. Untuk validitasnya bisa cek pada teman-teman dosen yang pernah jadi “tukang” selama kuliah di sana, misalnya tukang pembersih (cleaner). Maksud saya, boleh juga tanya saya.
Tukang itu dipersepsi sebagai orang mengilmui pekerjaannya. Mereka mengadopsi keilmuan itu dari “learning by practicing.” Itu bisa lebih kuat efeknya dibanding sekadar “learning from the learned”.
Negara maju menerapkan ajaran islam secara substantif tentang ketinggian beberapa derajat bagi mereka yang berilmu pengetahuan. Sebagian kita hanya mempersepsi secara “letterlijk” tentang siapa yang dimaksud sebagai orang yang berilmu. Terkhusus saya, merasakan adanya ketersinggungan “derajat keilmuan” ketika didebat oleh tukang kolam tersebut.





