Celebesupdate.com, Makassar-Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir di Kota Makassar membuat anggota MPR RI, Dr Hj Meity Rahmatia ikut sedih. Ia pun menyuarakan keprihatinannya di hadapan perwakilan warga Makassar dalam sosialisasi empat pilar yang digelar, Rabu (27/05/2026) di daerah berjuluk Kota Daeng itu.
Dalam pemaparannya, politisi yang juga dikenal sebagai anggota Komisi XIII di DPR RI tersebut mengutip data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak Makassar yang mencatat sebanyak 1.222 kasus kekerasan pada perempuan dan anak dalam kurun tahun 2025. Dan pada 2026, angka ini diprediksi tidak mengalami penurunan hingga akhir tahun karena disebabkan faktor-faktor seperti konten negatif dari media digital,efek Narkoba, taraf hidup atau kondisi ekonomi dan lain-lain.
“Ini pekerjaan rumah bersama, seluruh elemen bangsa. Kita bangun edukasi yang dimulai dari keluarga. Penguatan nilai-nilai dan kita tanamkan budaya anti kekerasan yang berbasis kearifan bangsa Indonesia dalam empat pilar. Nilai-nilai ini harus dibumikan kepada generasi muda ,” jelasnya di depan ratusan peserta sosialisasi yang mewakili lapisan masyarakat Makassar.
Hal yang sama juga telah diungkapkan Meity pada sosialisasi beberapa hari sebelumnya, juga di tempat yang sama tapi dengan peserta berbeda. Ia mengatakan sangat prihatin pada korban dan mengecam para pelaku. Yang terbaru adalah peristiwa penyekapan seorang mahasiswi asal Kalimantan MA (21) oleh pelaku penipuan berbasis daring berinisial FR (33) awal bulan Mei 2026.
Tak hanya mengalami kekerasan fisik, korban juga mengalami kekerasan seksual yang meninggalkan tekanan psikis dan trauma. Korban membeberkan kepada aparat keamanan, ia mengenal pelaku lewat media sosial dan mendapat iming-iming lowongan kerja sebagai baby sitter. Entah mengapa, ia percaya, dan akhirnya datang ke Makassar, menuju alamat yang ditentukan pelaku di sebuah kawasan perumahan Jalan Metro Tanjung Bunga.
Disanalah korban disekap selama tiga hari. Pelaku menghilang dan meninggalkan korban dalam keadaan tangan dan mulut yang terikat kain. Beruntung, pemilik rumah segera menemukan korban. Dalam beberapa hari kemudian pelaku juga berhasil ditangkap aparat kepolisian di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Dalam sosialisasi ini,Meity mengaku merasa terpukul atas peristiwa-peristiwa kekerasan pada anak dan perempuan yang masih terjadi di Makassar. “Saya sebagai perwakilan rakyat dari wilayah ini tentu saja sangat terpukul, kekerasan pada perempuan dan anak seperti mata rantai yang tak putus,” ungkapnya lirih.
Empat pilar lanjut Meity, memuat intisari agama dannilai-nilai kearifan lokal masyarakat Indonesia yang sangat anti pada kekerasan. Seperti pada Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang menjunjung tinggi rasa persaudaraan, gotong royong, dan perikemanusiaan.
“Budaya anti kekerasan sebenarnya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Hal itu tergambar dalam dasar konstitusi UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara pada ke 5 silanya,” pungkasnya.





