Kemiripan paling mencolok terletak pada penggunaan slogan yang menjanjikan pemulihan instan. Fisk menggunakan jargon “Fisk Can Fix It”, sebuah janji sebagai satu-satunya “tukang perbaiki” kota yang rusak.
Di dunia nyata, Trump mengguncang panggung politik dengan “Make America Great Again”. Kedua narasi ini bekerja dengan logika serupa: menciptakan persepsi bahwa Amerika Serikat sedang hancur lebur.
Mereka meyakinkan publik bahwa hanya pemimpin bertangan besi yang mampu menyelamatkannya. Keduanya memposisikan diri sebagai “Penyelamat” dari ancaman yang mereka ciptakan sendiri.
Fisk mengklaim tindakan kejamnya dilakukan demi cinta pada New York, sambil meyakinkan warga bahwa pahlawan super adalah penyebab kekacauan. Trump pun serupa, memposisikan diri sebagai pelindung rakyat dari “elit global”, “Deep State”, dan “The New Axis of Evil”.
Mereka mahir menciptakan musuh bersama sebagai kambing hitam. Taktik ini efektif untuk mengalihkan perhatian publik dari agenda pribadi mereka yang sesungguhnya.





