Fenomena ini mencerminkan keruntuhan kontrak sosial kita. Di sini, “kebenaran bukan lagi konsensus bersama, melainkan komoditas yang dimanipulasi oleh kehendak kuasa”, kira-kira begitu kata Jean Baudrillard.
Kehadiran mereka membuktikan bahwa masyarakat yang ketakutan cenderung lebih mencintai ketertiban tiran daripada kebebasan yang gaduh. Kekuasaan di tangan seorang “Kingpin” bukan lagi alat keadilan.
Ia berubah menjadi menara gading narsisme yang dibangun di atas reruntuhan etika publik. Ini adalah peringatan nyata bahwa kegelapan sering kali datang dari mereka yang memegang mandat cahaya.
Lalu bagaimana di Indonesia? Ehm …
Makassar, 3 April 2026





