Editor 15 April 2026

Gaya otoriter ini meluap hingga ke kebijakan luar negeri yang transaksional. Layaknya Fisk yang menekan sindikat lain dengan ancaman, Trump sering menggunakan kekuatan ekonomi dan militer sebagai alat pemaksa.

Bagi keduanya, diplomasi hanyalah bentuk lain dari gertakan preman di meja perundingan. Mereka tak segan mencekik sekutu dengan tarif dagang hanya demi keuntungan posisi pribadi.

Manipulasi media menjadi senjata pamungkas berikutnya. Fisk mengontrol narasi melalui intimidasi, sementara Trump mendelegitimasi kritik dengan label “Fake News”.

Taktik gaslighting ini menciptakan pengikut fanatik yang abai terhadap kebenaran objektif. Ketika hukum mulai digunakan untuk menyerang lawan, itulah puncak dari kekuasaan mereka.

Saat Fisk menjadi Walikota, ia mengkriminalisasi musuhnya lewat hukum. Trump menunjukkan kecenderungan serupa: menempatkan loyalis di posisi kunci agar kekuasaan eksekutif berfungsi sebagai perisai pribadi.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*