“Banyak anak-anak yang masih trauma atas kejadian gempa. Mereka tidak berani beraktifitas sendiri. Bahkan menuju kamar kecil yang berjarak beberapa meter saja mereka takut. Akhirnya kami temani”. Demikian disampaikan Nurmala Arfah, salah satu Tim Trauma Healing dari
Komunitas Sekajum yang hadir di Kota Mamuju. Di samping itu, terdapat pula salah satu anak yang menurut penuturan ibunya, pasca gempa tubuhnya bergetar kencang hampir 1 jam, sehingga membuat ibunya kawatir dengan yang terjadi pada anaknya yang masih sekolah SD itu.

Bermalam di Tenda Pengungsian
Sekitar 10 anak dalam tenda terpal berwarna biru berukuran 4 kali 8 meter itu sangat menikmati kebersamaan dalam proses trauma healing. Satu per satu anak-anak diminta untuk mengulas kembali kisah gempa dengan versi masing-masing. Hal ini penting dilakukan dalam proses trauma healing agar sedikit demi sedikit dapat ditanamkan pada pikiran mereka bahwa apa yang terjadi tidak berkaitan dengan apa yang dilihat kemudian. Sehingga mereka bisa lebih mudah menerima keadaan.






Di tunggu berita selanjutnya
siap bu amalia