Celebesupdate.com, Palestina-Hari ini, kondisi di Jalur Gaza tetap sangat kritis dan memburuk, di tengah konflik yang tak kunjung usai dan kondisi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan. Akumulasi korban jiwa sejak awal agresi telah mencapai puluhan ribu orang, dan dampaknya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza pada Rabu (25/02/2026), total korban tewas di wilayah itu telah mencapai lebih dari 72.000 jiwa sejak Oktober 2023, sementara jumlah yang terluka diperkirakan jauh lebih tinggi lagi. Angka-angka ini mencerminkan skala tragedi kemanusiaan yang terus berlanjut.
Meski gencatan senjata telah diumumkan beberapa bulan lalu, kenyataannya di lapangan banyak warga sipil masih menghadapi kekerasan sporadis dan ancaman keamanan. Laporan lokal menyebut bahwa serangan udara dan tembakan masih terjadi di beberapa kawasan padat penduduk.
Selain kekerasan, cuaca ekstrem juga memperparah penderitaan warga Gaza. Hujan deras telah menyebabkan banjir di banyak tenda pengungsian, membuat ribuan keluarga harus berjuang dalam kondisi basah dan berlumpur tanpa perlindungan yang memadai.
Kondisi ini semakin menambah tekanan bagi penduduk yang sudah lama tinggal di tenda-tenda darurat tanpa fasilitas yang layak dan akses terbatas terhadap bantuan dasar. Infrastruktur yang rusak dan tanah berlumpur membuat kehidupan sehari-hari semakin sulit.
Laporan dari sumber lokal juga menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza sangat terbatas, digambarkan hanya “setetes demi setetes”. Ini berarti suplai makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya tidak mencukupi bagi jutaan warga yang membutuhkan.
Namun demikian, sedikit cahaya harapan muncul ketika konvoi bantuan kemanusiaan ke-145 berhasil masuk ke Gaza pada tanggal 24 Februari, membawa sejumlah pasokan penting untuk warga yang kelaparan dan terlantar.
Di tengah upaya bantuan yang lambat, organisasi internasional menghadapi hambatan signifikan. Pemerintah Israel berencana untuk melarang operasi 37 organisasi non‑pemerintah internasional, yang telah lama memberikan bantuan kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat, karena menolak menyerahkan data staf mereka.
Langkah ini dikhawatirkan dapat memicu kolapsnya bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut, karena banyak layanan penting yang akan berhenti beroperasi jika izin mereka tidak diperpanjang.
Isu ini juga menjadi topik perdebatan global, dengan beberapa pihak mendesak penyelesaian hukum agar organisasi‑organisasi tersebut dapat terus bekerja tanpa harus mengungkap data pribadinya di tengah situasi perang.
Sementara itu, pada tingkat diplomasi internasional, pembicaraan penting berlangsung. Presiden Republik Indonesia sedang berada di Yordania untuk bertemu dengan Raja Yordania, dan salah satu agenda utama adalah membahas situasi kemanusiaan dan politik di Gaza.
Perhatian dunia juga tertuju pada kondisi warga Gaza yang tetap menjalankan rutinitas keagamaan mereka di bulan suci Ramadan, meskipun menghadapi blokade makanan, serangan, dan keterbatasan sumber daya. Banyak keluarga berkumpul setiap sore untuk berbuka puasa di tengah kesulitan besar ini.
Di tengah penderitaan ini, suara anak‑anak Gaza mulai terdengar. Melalui inisiatif PBB, anak‑anak menyuarakan impian mereka akan masa depan yang damai dan aman—sebuah harapan sederhana namun penuh makna di tengah konflik yang terus berlangsung.
Anak‑anak yang tinggal di pengungsian menuturkan harapan mereka untuk dapat kembali ke sekolah, bermain tanpa rasa takut, dan memiliki rumah yang layak—hal‑hal yang bagi banyak orang di luar sana mungkin terasa biasa, namun sangat berharga bagi mereka.
Krisis di Gaza juga memicu gelombang dukungan di seluruh dunia, dengan masyarakat sipil dan organisasi‑organisasi internasional berupaya mengumpulkan dana dan bantuan untuk warga yang menderita. Amal dan solidaritas mengalir dari berbagai penjuru, meski tantangan logistik dan politik tetap berat.
Namun, sebagian besar warga Gaza masih hidup dalam ketidakpastian. Blokade, kekerasan sporadis, dan akses yang sangat terbatas kepada kebutuhan dasar membuat kehidupan mereka berada di ujung ambang krisis yang semakin dalam.
Sementara itu, dunia internasional terus memantau situasi Gaza dengan kecemasan dan dorongan kuat agar solusi damai dan jangka panjang dapat segera ditemukan. Tetapi hingga saat ini, perdamaian yang nyata masih berada jauh di depan mata.
Kondisi kesehatan juga menjadi kekhawatiran besar karena rumah sakit di Gaza kekurangan fasilitas dan tenaga medis. Banyak pasien yang tidak mendapatkan perawatan yang layak karena suplai obat dan peralatan medis yang sangat terbatas.
Organisasi bantuan mengingatkan bahwa jika akses bantuan tidak cepat meningkat, risiko kematian akibat penyakit, malnutrisi, dan kondisi medis lainnya akan terus bertambah, terutama di kalangan anak‑anak dan lansia.
Di tengah semua ini, harapan untuk masa depan yang lebih baik tetap hidup bagi sebagian warga Gaza, meskipun setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup.





