“Tampaknya, ada usaha menahan diri dari negara yang terlibat. Selama ini belum menunjukkan skalasi yang koersif, yaitu penggunaan simbol militer yang dapat memicu meningkatnya skalasi konflik,” jelas Hidayat.
“Termasuk Indonesia,” tukas pemerhati hubungan internasional yang kini tengah melanjutkan pendidikan magisternya di Pascasarjana Unhas tersebut.
“Posisi Indonesia selalu normatif agar negara yang bersitegang menahan diri untuk tidak memicu ketegangan militer di LCS karena akan mengancam stabilitas dan keamanan kawasan Asia Tenggara khsusuny di wilayah LCS itu sendiri,” terangnya.
“Setiap LCS kembali tegang, sikap Indonesia selalu mengimbau para pihak-pihak berkonflik untuk menghormati tata perilaku (Code of conduct) yang diadopsi ASEAN. Isi COC tersebut pada intinya mengutamakan cara-cara damai dlm penyesaian konflik, sehingga sengketa LCS bisa terhindar dari konflik militer yang dapat merusak citra ASEAN sebagai kawasan damai dan aman”.





