Pendidikan pembebasan tak cuma transfer pengetahuan, tapi pula membentuk murid yang berperspektif kritis. Menurut Freire pendidikan yang menjadikan murid objek tak berpengetahuan (red:bodoh), dan guru sebagai sosok pintar, cerdas, dan berpengetahuan untuk mengisi kepala si murid adalah proses penindasan. Ia tidak tidak akan memanusian manusia. Sebab itu, guru dan siswa dalam pendidikan seharusnya sama sebagai subjek. Keduanya bekerjasama dalam memecahkan masalah, dan tidak terikat dalam relasi hierarki yang menindas. Pendidikan bagi Freire ialah arena humanisasi. Karenanya, lembaga pendidikan harus berfungsi pula sebagai sistem yang memanusiakan manusia, adil; bisa diakses oleh semua masyarakat tanpa kasta dan memperlakukan semua murid sama, tanpa ada perbedaan.
Konsep Freire tentang pendidikan ini adalah satu cara pandang. Tentu banyak persepektif yang berbeda. Freire adalah tokoh pendidikan yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Fenomenologi, Marxisme, dan eksistensialisme, atau filsafat pendidikan rekonstruksionisme. Tapi ideologi pendidikan ini, dianggap banyak relevan dengan sistem pendidikan di negara-negara dunia ketiga. Termasuk di Indonesia yang berpenduduk saat ini kurang lebih 2 ratus juta lebih saat ini.
Ideologi pembebasan banyak pula sejalan dengan konsep pendidikan dalam Islam. Islam menyebutnya luaran dari pendidikan Freire ini sebagai insan kamil. Sosok manusia yang berakhlak mulia, lemah lembut, bermanfaat dan bersikap adil bagi sesamanya serta memiliki keresahan terhadap penindasan. Rasulullah SAW menyebut manusia terbaik dalam Islam itu dalam hadistnya, yaitu “sebaik-baik kalian yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.





