Di kalangan aktivis pers bahkan menyebutnya sebagai re-ideologisasi jurnalis dan media. Maksudnya, profesi ini jurnalisme berjalan dipisahkan dari hakikat moralnya, atau secara filsafat dikenal dengan etika. Nilai tawar media sebagai medium informasi berpengaruh, membuka mata berbagai kelompok kepentingan untuk menjadikannya sebagai mitra strategis dalam memuluskan agenda-agendanya. Bagi sebagian oknum jurnalis yang tidak memiliki “iman”, juga memanfaatkan nilai tawar untuk kepentingan pribadinya.
Dalam catatan AJI Makassar, Ada beberapa sebab yang mendorong jurnalis rela mempertaruhkan independensi dan integritasnya. Paling dasar, adalah pengetahuan terhadap tugas dan fungsi pokok jurnalistik, disinternalisasi nilai etika dan jurnalisme pada pribadi jurnalis, upah di bawah standar, serta aturan media yang bersifat ambigu. Di internal media, masalah paling populer oleh karena desakan kapitalisasi yang kuat lewat iklan.
Pada konteks ini, secara sederhana media dan jurnalis dapat dilihat dari tiga sisi; pertama¸ media dan jurnalis sebagai objek diam dan pasif (digoda); kedua, sebagai objek aktif (menggoda); ketiga , gabungan keduanya.
Akibat dari berbagai masalah di atas, keyakinan publik terhadap media massa, sebagai pilar keempat demokrasi tampak mengalami pergeseran. Munculnya gelombang pasang yang menyeret media ke dalam industri menimbulkan dialektika baru di tengah masyarakat dimana sebagian besar menilai fungsi media sebagai alat kontrol sosial, politik dan ekonomi berjalan pincang.
Kehadiran media massa sebagai medium transformasi peristiwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dianggap lebih condong sebagai alat pemenuhan kebutuhan kekuasaan dan pasar. Justifikasi ini cukup beralasan dengan melihat pola perkembangan industri media yang bergantung pada usaha, dengan informasi sebagai komoditas utama untuk dijual. Dalam sistem media kekinian, banyak penggiat media melihat manajemen media tidak dapat berjalan dalam keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan industri di satu sisi, dan kebutuhan informasi substansial publik di lainnya.
Oligarki dan Monopoli Kepemilikan Media
Munculnya sistim media yang konvergen setidaknya membawa pengaruh besar terhadap proses transformasi informasi. Masyarakat diuntungkan karena dengan mudah, cepat, dan praktis memperoleh informasi secara luas dan akurat dengan suguhan fakta di depan mata. Dibalik perubahan mendasar dalam sistim transformasi informasi ini, masyarakat juga diajak lebih adaptif. Terutama dalam peningkatan kapasitas pengetahuan tentang teknologi informasi. Bahkan lebih jauh lagi, di era informasi ini, masyarakat lebih terbuka serta berusaha memahami efek media dalam konteks kehidupan sosial, politik dan ekonomi.
Tentu, kemajuan media merupakan konsekuensi logis perjalanan peradaban manusia. Karena itu, terjadinya konvergensi media disamping menciptakan peluang dalam mengakses informasi yang lebih akurat bagi masyarakat, konvergensi media juga sekaligus memberikan tantangan baru. Satu diantaranya, terjadinya perubahan mendasar dalam sistim informasi yang menuntut kapabilitas individu dalam menguasai teknologi terbaru. Dengan sendirinya, kemajuan media akan merubah watak dan karakter masyarakat menuju peradaban modern yang memahami hak-hak dan kewajibannya dalam negara demokrasi.





